Keliling 10 Kota, Praktikkan Salat
Ditulis Oleh Dhinar Sasongko   
Thursday, 14 May 2009

Keliling 10 Kota, Praktikkan Salat

Jawa Pos - Radar Semarang, Sabtu, 28 Maret 2009

Oleh-Oleh Hasil Kunjungan Aktifis Sobat ke Australia

Beda keyakinan bukan sebuah dinding pemisah. Hal itu diyakini oleh aktifis Sobat yang memaparkan kebersamaan kepada ribuan masyarakat Australia. Program kebersamaan yang mereka terapkan akan diaplikasikan ke sejumlah kota di negeri Kangguru tersebut.
Seperti apa?

SUASANA Kampoeng Percik di Turusan Salatiga kemarin terasa lengang dan asri. Sejumlah mobil terparkir di halaman depan. Dua-tiga orang terlihat berbincang di teras perpustakaan yang berada di bagian depan kompleks kantor LSM tersebut. Di dalam kantor, telah menunggu sejumla aktifis Sobat. Antara lain, Beny Ridwan (dosen STAIN), Purwanti Kusumaningtyas (dosen UKSW), Agung Waskitoadi (Percik), Dian Tjahyadi (pendeta), Ambar Istiyani (Percik) serta Pradjarta Dirdjosanjoto (Direktur Percik).

Keenam orang ini bagian dari 14 orang delegasi Sobat yang bertandang ke Australia selama tiga pekan. Program perjalanan mereka disebut Uniting Through Faith (Bersatu dalam Perbedaan Keyakinan).Mereka memberikan penjelasan kepada masyarakat Australia bahwa perbedaan agama bukan sekat pemisah dalam bermasyarakat. Rombongan bertolak dari Indonesia 25 Maret 2009 lalu dan berkeliling di sepuluh kota selama tiga minggu. Semua jadwal telah diatur oleh pengundang, Komunitas Gereja Australia. ”Mitos tentang Islam oleh masyarakat Australia perlu diluruskan sehingga tidak ada kesalahan persepsi,” tutur Beni Ridwan mengawali perbincangan.

 

Respons masyarakat atas kehadiran delegasi ini sangat mengagetkan. Sebab atensi pemerintah lokal setempat, masyarakat, serta pers sangat tinggi. Masyarakat sangat antusias mengikuti semua kegiatan yang sudah dijadwalkan. Terlebih saat delegasi mempraktikkan cara umat muslim salat.

”Respons masyarakat Australia menunjukkan jika sebenarnya semua menginginkan kedamaian dan tidak ada konflik antarsesama. Banyak pertanyaan kritis yang diajukan kepada delegasi dan itu memberikan banyak masukkan,” jelas Beni sembari menunjukkan beberapa kliping koran lokal Australia yang memuat aktivitas mereka.
Selama di Australisa, mereka tinggal di Victoria dan Tasmania. Para delegasi tinggal di rumah penduduk yang memiliki karakteristik berbeda. Di antaranya warga Indonesia yang tinggal di Australia, warga Australia yang pernah ke Indonesia, warga Australia yang baru saja ke Indonesia serta yang belum pernah datang ke Indonesia.
”Jadi setiap berpindah rumah kita memiliki pengalaman baru karena perbedaan kebudayaan. Itu semua menyenangkan karena banyak menambah wawasan,” tutur Benny diamini oleh Ambar.

Selama di Australia, delegasi mengunjungi sekitar 10 kota. Mereka berdiskusi di sekitar 17 sekolah, 11 gereja, 7 public speech, 4 universitas. Sedikitnya ada 4000 penduduk yang bertatap muka langsung dan mengadakan diskusi. Panitia lokal ternyata juga sudah menyiapkan 7000 brosur.

Pradjarta menjelaskan, program Sobat diawali 2002 silam. Program ini dibangun atas dasar kepercayaan antarumat beragama. Awalnya merupakan sebuah forum diskusi yang diikuti oleh Percik, Ponpes Edi Mancoro, dan Gereja Kristen Jawa (GKJ). ”Dulu sempat dinamai forum sarasehan ulama dan pendeta, lantas forum sarasehan umat beragama dan kini dinamakan Sobat.”

Sobat diambil karena mencerminkan tujuan gerakan ini. Mulai dari hubungan berbasis kemanusiaan, kejujuran dan kepercayaan. Forum ini awalnya diikuti 30 partisipan. Kini sudah menyebar sekitar 32 lokal jaringan di Jawa Tengah dan Jogja. (*/isk)

 

Sumber: Jawa Pos – Radar Semarang

Pemutakhiran Terakhir ( Thursday, 14 May 2009 )