Diskusi Wacana Lintas Iman
Ditulis Oleh Ambar Istiyani   
Tuesday, 08 September 2009

Membangun Toleransi di Tengah Kemajemukan Budayadan Agama, serta Masyarakat  yang Demokratis

 

Tema tersebut merupakan tema diskusi Forum Wacana Lintas Iman (WLI) pada tanggal 12 Agustus 2009 yang lalu bertempat di Kampoeng Percik Salatiga. Forum Wacana Lintas Iman adalah forum dialog reguler yang dipelopori oleh Lembaga PERCIK Salatiga, STAIN Salatiga, Sinode Gereja Kristen Jawa Tengah Utara (GKJ TU), Fatayat Nahdatul Ulama (NU) Salatiga, PD Aisiyah Muhammadiyah Salatiga, Sekolah Tinggi Agama Budha (STAB) Syailendra, dan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Salatiga

Penyelenggaraan Diskusi Wacana Lintas Iman kali ini agak berbeda dengan diskusi-diskusi sebelumnya karena banyak dihadiri peserta dari kalangan muda-mudi dari ketujuh lembaga jangkar Forum WLI, dengan taksiran jumlah sebanyak 80 orang. Hal lain yang membuat berbeda adalah diskusi ini dilakukan dalam rangka memfasilitasi US Embassy Speaker Program on Tolerance in a Democratic Society. Mr. Jason P. Rebholz, Atase Kebudayaan pada Kedutaan Besar Amerika di Jakarta yang turut hadir dalam diskusi menerangkan bahwa dalam program ini US Embassy mengundang orang-orang ahli dari Amerika untuk datang ke Indonesia dan berbicara tentang keahlian mereka.

Khusus dalam diskusi ini, mereka menghadirkan Ms. Zeenat Rahman Mustafa, senior koordinator program untuk urusan publik pada Interfaith Youth Core (IFYC) yang berpusat di Chicago, Illinois. Organisasi ini adalah satu NGO yang memberikan pelatihan kepada pemimpin-pemimpin agama, khususnya kalangan yang masih muda. Meski home base organisasi ini adalah di Chicago Illinois, tetapi kegiatan dan jaringan-jaringannya sudah tersebar di seluruh dunia.

Salah satu alasan pokok dari penekanan pada kalangan pemuda, antara lain banyak dipengaruhi oleh munculnya problem bersama ketika terjadi konflik dengan alasan agama, seringkali pemuda sebagai pelakunya. Pihaknya berpendapat bahwa hal itu tidak terjadi begitu saja, para pemuda tidak mungkin suatu hari bangun kemudian memutuskan untuk melakukan pengeboman misalnya. Menurutnya hal ini terjadi karena ada para ekstrimis yang merekrut mereka dan memberikan pengertian bahwa satu-satunya cara untuk mengekspresikan agama mereka adalah melakukan kekerasan.

Dalam presentasinya, Ms. Zeenat Rahman Mustafa mengemukakan tentang bagaimana komunitas muslim hidup di Amerika, dan tentang organisasi IFYC tempat beliau bekerja. Sebagai seorang muslim di Amerika, beliau dan teman-teman perempuan muslim lainnya sering berbagi pengalamannya dengan orang-orang di sana. Menurutnya, Amerika mungkin adalah negara barat yang paling memiliki keberagaman termasuk dalam hal agama-agama. Islam salah satunya, sebenarnya telah masuk ke Amerika ratusan tahun yang lalu dibawa oleh orang-orang Afrika. Sekarang ada sekitar 1300 masjid baik besar maupun kecil yang berdiri di sana. Di Chicago saja, ada sekitar 500 orang muslim yang tinggal di sana. Sehingga mereka punya komunitas untuk bertemu, dan mudah untuk mendapatkan makanan-makanan halal. Banyak juga orang muslim yang menduduki profesi-profesi penting di Amerika, contohnya ada yang duduk sebagai anggota konggres.

Sayangnya menurut Ms. Zenaat, sepenggal gambaran itu tidak bisa mengemuka sebab selama ini telah terbentuk kerangka anggapan bahwa ada politik identitas di antara Islam dengan Barat, dan keduanya dianggap tidak akan bisa bekerjasama. IFYC menolak anggapan tersebut dan tidak percaya bahwa hal tersebut benar. Karena itulah IFYC ingin para pemuda mempunyai suatu bahasa untuk mengartikulasikan pluralisme keagamaan dalam kerjasama antar iman. Sehingga ketika ada peristiwa dunia yang terjadi, daripada hanya melihat peristiwa tersebut dan jatuh ke dalam kerangka pembagian kelas peradaban budaya, mereka bisa mengkerangkai ulang situasi yang terjadi untuk komunitas mereka.

Contoh yang nyata dari hal ini adalah ketika dua bom terjadi di Jakarta dua minggu yang lalu, daripada hanya menganggap bahwa semua orang Indonesia adalah pelaku kekerasan atau semua orang muslim adalah pelaku kekerasan, maka kerangka yang seharusnya dibangun adalah para pelaku tindak kekerasan tersebut merupakan kelompok ekstrim dan bukan merupakan representasi dari semua orang Indonesia atau semua orang muslim. Jadi penting bagi para pemimpin untuk mampu mengkomunikasikan masalah ini kepada orang-orang yang diajak berdialog.

Sesi Diskusi

Setelah dilakukan pemaparan, acara dilanjukan dalam bentuk dialog interaktif. Dalam sesi diskusi, sejumlah pertanyaan diajukan oleh peserta dan menjadikan diskusi yang menarik. Pertanyaan peserta antara lain tentang apa sebenarnya latar belakang pembentukan IFYC di Amerika, dan apakah kegiatannya hanya dialog untuk menyebarkan nilai-nilai pluralisme atau ada hal-hal lain yang merupakan turunan dari kegiatan ini seperti advokasi di ranah masyarakat; apakah juga ada hal-hal yang sifatnya advokasi pada kebijakan struktural dalam rangka pengentasan kemiskinan, mengingat salah satu problem terbesar Indonesia adalah kemiskinan.

Serangkaian pertanyaan itu dijawab oleh Ms. Zeenat, bahwa organisasi ini dibentuk karena ada dua grant yang didapat oleh pendirinya. IFYC memberikan pelatihan kepada mahasiswa-mahasiswa dan komunitas-komunitas keagamaan untuk mengorganisasikan pelayanan-pelayanan seperti masalah kemiskinan, lingkungan, keadilan sosial, dan sebagainya. Kemudian IFYC memiliki beberapa program yang menyediakan dana untuk pemimpin lokal melakukan kegiatan di komunitas mereka berkenaan pada isu-isu tertentu yang mereka pilih. IFYC memberikan kebebasan pada pemimpin lokal untuk memilih isu yang akan menjadi fokus mereka, seperti misalnya waspada dan pemberantasan malaria. Isu tersebut dipilih sesuai dengan kebutuhan lokal.

Ketika ditanya tentang apakah ada perbedaan tujuan dan latar belakang IFYC dalam mengunjungi negara-negara, termasuk Indonesia? Dan apakah ada hubungan antara Pemerintah Amerika dengan IFYC? Menurut Ms. Zeenat, strategi pendekatan organisasi pada tingkat internasional adalah berdasarkan kesempatan. Tidak ada alasan-alasan khusus dalam mengunjungi suatu negara. Ketika mereka diundang dan berkesempatan pergi ke suatu negara tertentu, maka mereka akan datang dan memberikan presentasi. Selain itu tidak ada hubungan langsung antara Pemerintah Amerika dengan IFYC. Memang Pemerintah Amerika sering memberikan donor untuk program-program tertentu, tetapi secara formal kelembagaan, tidak ada hubungan di antara Pemerintah AS dengan IFYC.

Pertanyaan lain yang muncul adalah apakah ada saran atau kiat khusus untuk meningkatkan kerjasama antar agama dan memajukan pemuda Indonesia? Ms. Zeenat berharap bahwa pemuda di Indonesia bisa terlibat dalam dialog antar agama. IFYC memiliki materi-materi yang bisa diberikan. Di sini Ms. Zeenat memperkenalkan kegiatan-kegiatan IFYC, dan berharap ada kesempatan untuk bekerjasama. Pada bulan Oktober 2009 mendatang IFYC juga akan ada konferensi di Chicago. Dalam konferensi ini para pemuda Indonesia juga mempunyai peluang untuk mengikutinya. Informasi selengkapnya tentang hal ini antara lain bisa dilihat dalam website www.ifyc.org

Proses diskusi yang menarik ini, sayangnya karena keterbatasan waktu, maka tidak semua peserta bisa menyampaikan pendapatnya. Meskipun dalam konteks lebih luas, acara ini terkait dengan upaya diplomasi luar negeri AS dari pemerintahan baru yang ingin mengubah citra diri sebagai salah satu negara penyebab terorisme global, namun kedua belah pihak telah berkesempatan untuk saling mendengar dan sharing tentang konteks masing-masing yang tentunya akan berguna untuk meneruskan langkah fasilitasi dialog antar agama dalam kepelbagian budaya.

*) Ditulis oleh Ambar Istiyani (Staf Percik di bidang program-program dialog antar agama)

Pemutakhiran Terakhir ( Saturday, 19 September 2009 )