|
Seminar Nasional Wacana Lintas Iman |
|
|
|
|
Ditulis Oleh Suara Merdeka
|
|
Wednesday, 24 June 2009 |
|
Suara Merdeka, 19 Juni 2009 Hubungan Antarumat Beragama Perlu Dijaga SIDOMUKTI- Kebersamaan kedamaian dan kemanusian dalam hubungan antarumat beragama perlu dijaga. Beragamnya agama di Indonesia merupakan bentuk pruralisme berkehidupan. Ada agama Islam, Nasrani, Hindu, Budha, Yahudi, Khong Hu Cu tetapi yang namanya Tuhan tetap satu, tetapi perjalanannya berbeda.
Hal ini dikemukakan Prof Musa Asy’arie dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta saat seminar nasional wacana lintas iman dengan tema ”A Commom Word: Kebebasan, Kedamaian dan Kemanusian”, di Auditorium Kampus I STAIN Kamis (18/6). Seminar ini kerja sama STAIN Salatiga dengan Percik, Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Syailendra, Fatayat NU, GKJTU, Aisiyah dan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI). Musa yang juga staf ahli bidang sosial budaya Menteri Komunikasi dan Informatika itu mengemukakan, sebuah agama ibarat sebuah gunung, berbagai cara mendaki dengan jalur berbeda-beda. Kerukunan Tetapi semuanya akan mencapai titik satu puncak yang sama yakni Tuhan. Saat ini yang perlu ditekankan adalah, upaya menciptakan kualitas hubungan antarumat beragama. Pemateri lainnya, Prof Dr H Muh Zuhri MA (Guru besar STAIN Salatiga), menyampaikan tentang kebersamaan, kedamaian kemanusiaan dalam perspektif sosial religius di Salatiga. Menurutnya, suatu inisiatif menciptakan kerukunan dan perdamaian antarumat beragama perlu mendapat dukungan masyarakat . Hal ini agar konflik apa saja, khususnya yang menyangkut hubungan antarumat dapat ditoleransi dengan baik, sehingga tercipta ketentraman dan kenyamanan dalam kehidupan. Dosen Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta AA GN Ari Dwipayana memaparkan refleksi atas A Common Word dalam perspektif Hindu. Yaitu sebuah pandangan dalam Hindu yang bisa digunakan sebagai fondasi dalam perbedaan. Seperti dasar percaya bahwa Brahman Maha Pengasih dan Penyayang sebagaimana sifat Brahman yang diibaratkan sebagai samudera luas yang tidak bertepi. (H53-16) |
|
Pemutakhiran Terakhir ( Wednesday, 24 June 2009 )
|