Monday, 11 December 2017
   

Statistik

Anggota: 33111
Berita: 128
Pranala: 3
Pengunjung: 4364839
.
FGD Sobat di Gubug PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Ambar Istiyani   
Thursday, 11 June 2009

Kyai dan Pendeta Diskusikan Masalah Lingkungan Hidup

Setelah mengadakan sarasehan berkala SOBAT pada tanggal 18 Mei 2009, ulama, pendeta dan pemimpin agama lain yang tergabung dalam forum SOBAT mencoba mendiskusikan masalah lingkungan hidup pada tanggal 19 Mei 2009. SOBAT adalah forum dialog lintas iman yang diprakarsai oleh Pondok Pesantren Edi Mancoro, Sinode Gereja Kristen Jawa (GKJ), dan Lembaga Percik Salatiga. Forum ini telah memiliki 32 simpul (jaringan lokal) yang tersebar di kota-kota dan kabupaten-kabupaten di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Diskusi secara terfokus yang dilakukan dalam kelompok-kelompok (Focus Groups Discussion / FGD) ini dilakukan di halaman GKJ Tempurung, Jl. MT. Haryono, Desa Gubug, Grobogan, Purwodadi. Lokasi dan lingkungan sekitar GKJ Tempurung ini sangat menarik. Selain berdiri di tengah-tengah pertokoan dan pasar yang ramai, gereja ini bersebelahan dengan sebuah klenteng tempat umat Tridharma melakukan ibadah. Tidak hanya itu saja, belakang GKJ Tempurung adalah musholla yang setiap hari ajeg dikunjungi oleh muslim di sekitarnya. Sekitar 200 meter dari gereja juga berdiri Masjid yang besar dan megah. Ini menunjukan indahnya keberagaman di daerah tersebut, dan yang penting untuk diapresiasi adalah bahwa masyarakat serta umat beragama / keyakinan yang berbeda di situ hidup berdampingan dengan sangat rukun dan damai.
 

Ide untuk melakukan FGD dengan tema lingkungan hidup oleh SOBAT  lahir dari keprihatinan pada maraknya kerusakan lingkungan hidup. Memang kerusakan lingkungan hidup telah menjadi masalah yang umum. Hal ini telah menjadi perhatian bukan hanya masyarakat lokal, nasional, tetapi juga global. Saat ini pemanasan global telah menjadi sebuah isu bersama yang secara intensif dan luas didengungkan oleh aktivis-aktivis lingkungan hidup secara serentak. Dalam konteks Indonesia, masalah lingkungan hidup sangat dekat hubungannya dengan kemiskinan, kepadatan penduduk, perkembangan industri tidak ramah lingkungan, tata kelola lahan, dan gaya hidup. Dalam periode 2006-2008 saja misalnya, masyarakat Indonesia mengalami masalah lingkungan yang sangat serius seperti banjir, tanah longsor, pengelolaan sampah di kota-kota, kekeringan, dan kebakaran hutan. Oleh sebab itu diskusi yang diikuti dengan tindak lanjut dalam menangani, mengelola, serta mengawasi masalah lingkungan hidup dipandang sangatlah perlu.

FGD ini diikuti oleh 50 orang peserta yang terdiri dari kyai, pendeta dan pemimpin agama lain mencoba memetakan bentuk-bentuk persoalan lingkungan hidup apa saja yang dihadapi di lingkungan masing-masing simpul dan apa dampak nyatanya. Simpul Pekalongan misalnya, mengungkapkan bahwa limbah batik atau laundry jean di Bojong telah mencemari air di sepanjang sungai dan saluran-saluran irigasi. Pencemaran yang terus menerus tentu akan berakibat pada pendangkalan sungai dan saluran-saluran irigasi serta kerusakan ekosistem di sungai tersebut. Lain lagi dengan Simpul Klaten, mereka mengungkapkan bahwa penambangan pasir di Sungai Woro dan desa-desa di sekitar Gunung Merapi dikhawatirkan akan menimbulkan banjir besar dan tanah longsor yang dapat membahayakan desa-desa di sekitarnya.

Tantangan-tantangan yang kemungkinan akan dihadapi oleh SOBAT jika menangani masalah lingkungan hidup yang telah dipetakan tentu juga dibahas dalam FGD. Beberapa simpul menyatakan bahwa benturan dengan kepentingan ekonomi masyarakat akan membuat masalah ini sangat dilematis, di samping juga mengadvokasikan masalah lingkungan hidup nantinya akan berhadapan dengan para pembuat kebijakan (legislatif). Untuk itu menurut Simpul Cilacap, diperlukan kehadiran lembaga khusus yang memberi perhatian  dan advokasi pada masalah lingkungan hidup.

pemetaan yang telah dilakukan, dipandang bahwa perlu dirancangnya sebuah kegiatan dengan agenda bersama mengatasi masalah lingkungan hidup. Beberapa hal yang dapat dipertimbangkan untuk menjadi program atau strategi mengatasi lingkungan hidup adalah pendekatan berbasis metodologi PAR (Participatory Action Research) dan PRA (Participatory Rural Appraisal). Diperlukan juga data lapang  

 

sebagai bukti bahwa isu lingkungan hidup tersebut memang ada. Dari hasil temuan lapangan, maka diperlukan sharing bersama untuk menguatkan dan membangun basis jejaring. Selain itu juga karena ranah penggarapan isu lingkungan hidup ini bersentuhan dengan ranah nilai-nilai agamis, maka juga akan dilakukan Lokakarya Peran Agama dalam Penatakelolaan Lingkungan Hidup. Forum setuju bahwa rancangan-rancangan yang telah dibuat tersebut harus segera ditindaklanjuti.

* penulis adalah Program Assistant Sobat

Pemutakhiran Terakhir ( Wednesday, 24 June 2009 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
.

Publikasi

Polling

Darimana anda mengetahui tentang Percik ?
 
© 2017 kampoeng percik
Joomla! est un logiciel libre distribué sous licence GNU/GPL.