Monday, 11 December 2017
   

Statistik

Anggota: 33111
Berita: 128
Pranala: 3
Pengunjung: 4364829
.
Community Oriented Policing (COP) PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Damar Waskitojati   
Monday, 11 August 2008

Training Peningkatan Kapasitas Pengurus Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) di Kota Salatiga

 

Pada tanggal 26 dan 27 Juni 2008, bertempat di Kampoeng Percik Salatiga, Lembaga Percik didukung oleh The Asia Foundation mengadakan Training Peningkatan Kapasitas Pengurus Forum Kemitraan Polisi Masyarakat (FKPM) di Kota Salatiga. Training ini diadakan sebagai wujud komitmen Percik mendukung program Perpolisian Masyarakat (Polmas) yang merupakan upaya Polri dalam mereformasi diri menjadi polisi yang lebih berwatak sipil.


 

Dalam beberapa kali kesempatan, Percik dan Polres Salatiga telah mengadakan kegiatan-kegiatan yang mendukung ke arah peningkatan kapasitas FKPM, seperti Forum Belajar Bersama tentang Polmas pada tanggal 26 & 27 Maret 2007, Sarasehan tentang Perpolisian Masyarakat kepada Pengurus FKPM se-Kota Salatiga pada tanggal 2 & 3 Juni 2007 di Kampoeng Percik, Training Peningkatan Kapasitas Pengurus FKPM se-Kota Salatiga pada tanggal 4-5 Agustus 2007, 18-19 Agustus 2007, dan 1-2 September 2007 di Kampoeng Percik.

Namun berangkat dari kesadaran bahwa proses peningkatan kapasitas dan penguatan FKPM bukanlah proses yang instan, dan juga kenyataan bahwa organisasi ini juga menghadapi tantangan berupa pertanyaan kritis dari masyarakat, “Apakah organisasi ini dapat bertahan dan dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat ?”, maka proses belajar bersama ini perlu terus menerus dilakukan.

Training yang dibuka secara bersama oleh I Made Samiana selaku Wakil Direktur Percik dan Imung Mulyani selaku Kabag Binamitra Polres Salatiga, diikuti oleh dua perwakilan pengurus dari 22 FKPM yang di Salatiga. Untuk training kali ini, Percik mendorongkan kehadiran Ketua FKPM dan satu pengurus wanita. Kehadiran Ketua FKPM sangat diharapkan karena kesesuaian dengan salah topik training yaitu perencanaan dalam organisasi. Sedangkan partispasi wanita di dalam training ini sangat diharapkan karena didorong oleh kesadaran bahwa keamanan bukanlah monopoli kaum pria saja, dan dengan banyaknya kegiatan/pertemuan ibu-ibu yang ada di kampung, dapat menjadi media yang cukup strategis untuk penyebaran informasi mengenai FKPM di masyarakat.

Di dalam orientasi pelatihan, Damar Waskitojati dan Dayusman Junus sebagai fasilitator coba memilah capasity building (peningkatan kapasitas) menjadi tiga bagian yaitu; individual capasity building; organizational capasity building; dan community capasity building. Di dalam training kali ini, capasity building lebih difokuskan kepada organizational dan community capasity building yang diwakili oleh topik-topik Perencanaan dalam Organisasi serta Pemberdayaan Komunitas untuk Pencegahan dan Penyelesaian Konflik. Dalam topik Perencanaan dalam Organisasi yang diberikan pada hari pertama meskipun yang menerima training adalah individu-individu pengurus FKPM, namun sasaran yang dituju adalah kemampuan FKPM secara organisasi dalam membuat suatu perencanaan program yang baik. Sedangkan topik Pemberdayaan Komunitas untuk Pencegahan dan Penyelesaian Konflik yang diberikan pada hari kedua, pembahasan lebih ditekankan kepada pencegahan konflik, meskipun kemudian tidak serta merta meninggalkan materi mediasi sebagai upaya penyelesaian konflik. Selepas training ini diharapkan FKPM dapat menjadi agen pemberdayaan masyarakat untuk pencegahan konflik dengan mempertimbangkan nilai-nilai kearifan lokal, gender, dan lain-lain.

 

Hari Pertama

Pada hari pertama, Slamet Luwihono sebagai fasilitator mengajak peserta untuk belajar bersama mengenai perencanaan dalam organisasi. Materi dalam topik ini antara lain merumuskan dan menetapkan visi misi organisasi sebagai acuan dalam perencanaan, jenis-jenis perencanaan, tujuan perencanaan, elemen perencanaan, manfaat perencanaan, perencanaan strategis, ketrampilan yang diperlukan bagi pemimpin organisasi dalam penyusunan perencanaan, langkah-langkah perencanaan, dan kendala-kendala dalam menyusun perencanaan.

Sesi ini dibuka oleh fasilitator dengan sebuah studi kasus tentang apa yang harus dipikirkan dan dilakukan lima hari sebelum keberangkatan jika peserta adalah seorang sopir truk dari Salatiga yang diminta untuk mengantar barang ke Sambas dengan membawa lima orang kru yang sudah ditentukan oleh pemesan. Studi kasus ini bertujuan untuk menggugah kesadaran peserta akan arti pentingnya sebuah perencanaan. Tanpa suatu perencanaan yang baik, perjalanan tersebut kemungkinan besar akan terganggu. Konsentrasi sopir yang terganggu oleh kru yang terus menerus menanyakan rute perjalanan, uang saku yang dibawa tidak mencukupi, kendaraan yang rusak di tengah jalan, dapat terjadi jika perjalanan tersebut tanpa perencanaan yang baik.

Dalam paparannya, fasilitator mencoba menanamkan pemahaman kepada peserta bahwa perencanaan merupakan alat untuk mewujudkan tujuan organisasi; dengan perencanaan pencapaian tujuan bisa dilakukan secara lebih sistimatis; perencanaan harus bersifat fleksibel; perencanaan lebih merupakan seni daripada ilmu; perencanaan ideal merupakan penjabaran dari visi - misi atau dengan kata lain visi – misi merupakan dasar penyusunan perencanaan. Selain itu, fasilitator juga mengajak peserta untuk melihat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun perencanaan seperti  tujuan yang akan dituju diharus jelas; senantiasa menyamakan pemahaman tentang tujuan organisasi diantara sesama anggota supaya team work bekerja efisien; mencermati posisi organisasi (kelemahan dan kekuatan, ketersediaan sumber daya yang ada); dan merumuskan rencana secara bersama.  Penyajian materi kemudian ditutup dengan paparan mengenai kendala-kendala yang sering dihadapi dalam penyusunan rencana. Kendala-kendala itu antara lain lemahnya kapasitas; tidak ada kesepahaman antara pimpinan dan anggota  tentang pentingnya perencanaan; minimnya ketersediaan anggaran; dan visi dan misi tidak jelas. Dengan mengenal kendala-kendala ini, peserta diharapkan dapat mengantisipasinya dan secara kreatif dapat mencari solusinya.

Setelah istirahat makan siang dan sholat, para peserta masuk ke dalam kelompok diskusi yang masing-masing beranggotakan lima sampai enam orang. Tugas kali ini adalah menyusun suatu perencanaan program kerja FKPM dengan mempertimbangkan kondisi internal dan eksternal yang diberikan oleh fasilitator. Untuk itu para peserta dituntut untuk memetakan terlebih dahulu kondisi-kondisi internal dan eksternal tersebut kedalam kategori permasalahan yang harus dipecahkan atau kategori sumber daya yang dapat dipakai/dimanfaatkan oleh FKPM. Dari hasil-hasil diskusi kelompok, ada kelompok yang sudah cukup baik dalam menyusun rencana program, namun ada juga yang masih terlihat kurang tepat dalam merumuskan program beserta kegiatan-kegiatannya.

Hari Kedua  

Topik dalam training hari kedua ini adalah Pemberdayaan Komunitas untuk Pencegahan dan Penyelesaian Konflik yang dibawakan oleh Pradjarta Dirdjosanjoto (Direktur Percik). Sebelum memulai sesi ini, fasilitator menjelaskan bahwa di Kampoeng Percik ini, interupsi sangat dihalalkan sehingga jika nanti ada pemaparan yang dirasa kurang sesuai, peserta dapat langsung menginterupsi. Hal ini berangkat dari kesadaran bahwa anggota FKPM adalah juga tokoh-tokoh masyarakat yang dipercaya juga mempunyai banyak pengalaman karena seringkali berhadapan langsung dengan konflik di masyarakat. Sehingga diharapkan sesi ini dapat menjadi forum belajar bersama, bertukar wawasan dan pengalaman tentang cara-cara untuk mencegah, meredam dan menyelesaikan konflik.

Fasilitator membuka sesi ini dengan memaparkan empat asumsi mengenai konflik yaitu (1) Setiap orang mengetahui konflik dari pengalamannya ataupun dari apa yang dilihatnya yang terjadi di lingkungannya. (2) Tiap masyarakat memiliki cara pandang tersendiri terhadap konflik yang terjadi di lingkungannya, dimana cara pandang ini sangat dipengaruhi oleh kerangka pemikiran secara umum dan budaya setempat. (3) Konflik merupakan bagian dari kehidupan bersama sehingga tidak dapat dihapus atau dicegah dari aktivitas manusia, tentu saja konflik ini bisa membangun ataupun merusak, semua tergantung pada kondisi kelompok masyarakat yang berkaitan. (4) Setiap masyarakat mengandung potensi konflik yang dapat meletus dipermukaan, tetapi disisi lain masyarakat juga memiliki kemampuan, mekanisme untuk mencegah, meredam, serta menyelesaikan konflik tersebut. Selain itu fasilitator juga memaparkan beberapa pengertian konflik, antara lain konflik adalah berbagai bentuk pertentangan yang dihasilkan oleh individu atau kelompok karena mereka yang terlibat memiliki perbedaan sikap, kepercayaan, nilai-nilai, atau kebutuhan; Konflik adalah hubungan pertentangan antara dua pihak atau lebih yang memiliki sasaran tertentu, namun diliputi pemikiran, perasaan dan perbuatan yg tidak sejalan; dan konflik adalah suatu proses dimana dua pihak atau lebih berusaha memaksakan tujuannya dengan cara mengusahakan untuk menggagalkan tujuan yang ingin dicapai pihak lain.

Setelah paparan tersebut, fasilitator mempersilahkan para peserta untuk mengungkapkan apa saja yang mereka pikiran tentang konflik. Ternyata antusiasme peserta untuk mengungkapkan pikiran mereka sangat besar, hingga fasilitator harus membatasi kesempatan hanya untuk lima peserta saja karena waktu yang terbatas. Beberapa pikiran mereka mengenai konflik antara lain (1) Udin, menurutnya ada konflik di masyarakat yang perlu ditanggapi tetapi ada juga konflik yang tidak perlu ditanggapi. (2) Sukandar, orang hidup itu penuh dikelilingi oleh konflik,  karena konflik adalah bagian dari kehidupan. Oleh karena itu konflik itu harus diatur/dicari jalan keluarnya. (3) Tanwir, ada dua hal tentang konflik, yaitu konflik internal (konflik di dalam keluarga) dan konflik eksternal (yang terjadi di masyarakat). Jika terjadi konflik maka perlu ditangani, dicari jalan keluarnya. Konflik keluargapun bisa berpotensi menimbulkan konflik masyarakat karena sekecil apapun konfliknya tetap harus ditangani agar tidak menjadi konflik yang lebih besar. (4) Winarno dari FKPM Tegalrejo, beda penafsiran saja bisa menimbulkan konflik. Tingkat sumber daya manusia (pendidikan, wawasan) dianggap sangat berpengaruh dalam mengatasi konflik yang terjadi. (5) Samsul dari FKPM Tegalrejo,  konflik adalah bagian dari masalah untuk itu perlu dan  harus dibedakan antara konflik dan masalah.

Fasilitator kemudian melanjutkan paparannya dengan menjelaskan tahap-tahap terjadinya konflik yang terdiri dari tahap pra konflik, tahap konfrontasi, tahap krisis, tahap akibat, dan tahap pasca konflik. Agar peserta mempunyai gambaran nyata mengenai tahap pra konflik, fasilitator membuka kesempatan bagi lima peserta untuk memberikan contoh-contoh kasus yang mereka lihat atau alami di Salatiga. Dari contoh-contoh tersebut peserta diminta untuk mendiskusikan bersama mana contoh yang baru pada tahap pra konflik dan mana yang sudah masuk tahap konfrontasi. Namun dalam penjelasan lebh lanjut fasilitator juga mengingatkan bahwa tidak semua konflik sifatnya negatif dan destruktif. Ada juga konflik-konflik yang sifatnya positif dan membangun seperti pada kasus demo PDAM yang diungkapkan salah seorang peserta. Pada kasus tersebut, setelah terjadi konflik yang berupa demo oleh berbagai elemen masyarakat, ada peningkatan dari pelayanan PDAM.

Dari tahapan konflik, materi beralih kepada faktor-faktor penyebab konflik yang dapat sangat beragam seperti konflik nilai, kurangnya komunikasi, perbedaan data dan informasi, lemahnya kepemimpinan, ketidakcocokan peran, perubahan keseimbangan, masalah yang belum terpecahkan, prasangka buruk dan lain-lain. Materi yang lain adalah macam-macam penanganan konflik seperti pencegahan konflik, penyelesaian konflik, pengelolaan konflik, resolusi konflik dan transformasi konflik.

Dalam penanganan konflik, fasilitator mengajak peserta untuk melihat budaya lokal sebagai sarana menangani konflik. Di dalam penjelasannya, fasilitator mengungkapkan bahwa setiap budaya memiliki kearifan tersendiri (kearifan lokal) dalam menyikapi permasalahan hidup yang dihadapi, termasuk didalamnya kearifan dalam menangani konflik. Topik inilah yang kemudian menjadi bahan diskusi kelompok.

Tugas diskusi kelompok kali ini adalah menemukan kearifan lokal di dalam nilai-nilai budaya, dalam tradisi sosial dan keagamaan, dalam kepemimpinan lokal, dalam kelembagaan lokal dan lain-lain, yang kemudian dirangkai dengan pertanyaan cara dan strategi yang dapat dilakukan FKPM dalam menangani konflik di wilayah masing-masing. Dari hasil diskusi kelompok, tergali cukup banyak kearifan lokal yang kesemuanya mengajarkan kebaikan. Namun memang masih harus dipilih kesesuaiannya dengan jenis konflik yang terjadi. Beberapa kearifan lokal yang terungkap dalam diskusi kelompok antara lain ojo dumeh; ajining diri ana ing lathi; deso mawa cara, negoro mawa tata;  seje deso seje cara, seje negara seje tata; dan lai-lain. Sedangkan budaya-budaya lokal yang dapat digunakan sebagai media pencegahan konflik diantaranya merti desa dan saparan yang sarat dengan falsafah yang mengajarkan kebaikan. Salah seorang peserta yang bukan asli suku Jawa namun sudah lama tinggal di Jawa, mengutarakan bahwa ketika pindah dan tinggal di tengah-tengah masyarakat Jawa, dia sangat terkesan dengan banyaknya kearifan lokal di dalam budaya Jawa. Namun dia merasakan semakin lama nilai-nilai yang kaya akan ajakan berbuat baik tersebut terpinggirkan oleh arus modernisasi. Sehingga dia merasa topik ini sangat baik karena dapat menyadarkan peserta untuk menemukan dan memberdayakan kearifan lokal.
Pemutakhiran Terakhir ( Monday, 11 August 2008 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
.

Publikasi

Polling

Darimana anda mengetahui tentang Percik ?
 
© 2017 kampoeng percik
Joomla! est un logiciel libre distribué sous licence GNU/GPL.