Thursday, 19 October 2017
   

Statistik

Anggota: 33098
Berita: 128
Pranala: 3
Pengunjung: 4339075
.
Reportase kegiatan: PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Josien Folbert   
Wednesday, 16 April 2008
Pendidikan Anak Dalam Keluarga : Perspektif Agama-agama


Ada suasana yang berbeda pada hari Minggu, 16 Maret 2008, di SD Muhammadiyah Plus Kalicacing di Salatiga. Tempat yang sehari-hari menfasilitasi proses belajar mengajar (formal) bagi anak-anak usia 6-12 tahun ini, membuka pintunya bagi kalangan dewasa untuk mempercakapkan dunia anak-anak dalam perspektif agama-agama. Mereka adalah para peserta program Wacana Lintas Iman yang terdiri dari para pendeta GKJ dan GKJTU, para kyai, ibu-ibu dari Fatayat, Muslimat, Aisyiyah dan Salimah, para dosen dan mahasiswa dari STAIN, juga dari Sekolah Tinggi Agama Budha Syailendra-Kopeng dan PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia) Salatiga. Bila dihitung dari segi jumlah, peserta yang hadir hampir mencapai seratus orang. Antusiasme ini sangat mengesankan, dan semakin menegaskan perlunya diadakan program Wacana Lintas Agama.

Program Wacana Lintas Iman ini sudah berjalan hampir dua tahun. Gagasan ini dimulai dari Percik dan STAIN Salatiga. Dalam perjalanannya, banyak pusat-pusat keagamaan di sekitar Salatiga turut terlibat dan melibatkan diri dalam program ini. Para pihak yang hadir dalam pertemuan di SD Muhammadiyah Plus Kalicacing itu adalah penyangga pokok program ini. Di masa-masa selanjutnya diharapkan akan ada lebih banyak pihak yang turut berpartisipasi dalam program ini.

 

Mengapa Salatiga? Salatiga adalah sebuah kota yang majemuk, baik dari segi etnis, ras, budaya dan agama. Ada banyak denominasi gereja, ada variasi di organisasi-organisasi Islam, beberapa aliran Buddha dan Hindu. Pada umumnya yang satu tidak mengenal agama yang lain; apalagi penghayatan terhadap iman. Program ini ingin melibatkan para pemimpin agama serta kalangan umat (ber)agama untuk saling bertukar pikiran dan berefleksi secara kritis dan terbuka mengenai pokok-pokok agama yang mendasar, khususnya pada aras lokal. Pokok-pokok yang pernah dibahas adalah ‘Apa itu: Lintas Agama?’, ‘Kitab-kitab Suci’, ‘Spiritualitas dan Ritual’, serta ‘Puasa’. Dari sekian pertemuan tersebut, muncul satu gejala yang menarik yaitu pengetahuan dasar tentang agama-agama lain biasanya masih ‘tipis’.

 

Untuk pertemuan kali ini ibu-ibu Aisyiyah mengusulkan satu pokok tema diskusi yang lebih praktis, yaitu “Pendidikan Anak Dalam Keluarga: Perspektif Agama-agama”. Ide ini didasari oleh kegelisahan para orang tua sekarang ini ketika diperhadapkan dengan masalah-masalah yang dialami anak-anak dan remaja. Para orang tua merasa terkaget-kaget dengan perilaku anak-anaknya, seperti  bersikap lebih bebas, tidak selalu taat kepada orang tua, dan mencari pengalaman baru lewat narkoba. Mereka merasa ini merupakan dampak negatif yang ditimbulkan oleh globalisasi dunia antara lain melalui teknologi yang baru, seperti internet, televisi, dll. Sesuatu yang terkadang merupakan hal baru bagi para orang tuanya, sehingga belum pernah memikirkannya. Fenomena ini memunculkan sejumlah pertanyaan, apakah ini muncul di semua keluarga dengan latarbelakang agama mana pun? Dan apakah para orang tua bisa saling belajar satu dengan yang lain?

 

Seorang anak merupakan amanah yang dipercayai oleh Allah kepada orang tua. Kelahiran seorang anak merupakan mukjizat, sambil penerimanya (orang tua) bertanggung jawab untuk membesarkan anak itu baik secara fisik maupun spiritual. Dari uraian keempat pemakalah (Islam, Kristen Protestan, Hindu dan Buddha) menjadi jelas bahwa anak-anak butuh dibesarkan dalam sebuah keluarga yang memberi perhatian, saling mengasihi dan mengajar mereka antara lain dengan agama. Tiga hal ini sangat berkaitan satu dengan yang lain.

 

Para pemakalah memperlihatkan bahwa sebenarnya masing-masing ajaran agama bertujuan supaya anak menjadi orang baik, terbuka, serta orang yang mengasihi Allah dan sesamanya. Prof. Dr. Achmadi, dalam presentasinya menjelaskan bahwa, “Pengertian pendidikan dalam Islam adalah upaya memanusiakan manusia, maksudnya ialah memelihara dan mengembangkan fitrah (harkat dan martabat) manusia sesuai dengan hakekat dan tujuan hidup manusia”.

 

Di agama Buddha, hal ini dijelaskan dalam Sigolavada Sutta. Seperti dipresentasikan oleh Pachlan, S.Ag, orang tua berkewajiban untuk mencegah anaknya berbuat jahat, dan menganjurkannya berbuat baik, melatih anaknya untuk dapat bekerja sendiri, melangsungkan perkawinan pada waktu yang sesuai, serta memberikan warisan pada waktu yang tepat.

 

Sementara itu di agama Hindu muncul aspek yang lain seperti dirumuskan oleh Suryanto, M.Pd. “Menurut Titib (2003), kata yang digunakan untuk “anak” dalam bahasa Sanskerta adalah “putra”. Kata “putra” pada mulanya berarti kecil atau yang disayangkan, kemudian kata ini dipakai untuk menjelaskan mengapa pentingnya seorang anak lahir dalam keluarga: “Oleh karena seorang anak yang akan menyeberangkan orang tuanya dari neraka yang disebut Put (neraka lantaran tidak memiliki keturunan), oleh karena itu ia disebut Putra” (Manawadharmashastra IX.138).

 

Peran orang tua dalam keluarga dari perspektif agama sangat penting. Justru dalam keluarga seorang anak bisa belajar secara informal sambil bermain. Achmadi mengatakan bahwa dia sebagai orang tua tidak boleh berperilaku tidak sesuai dengan apa yang selalu diajarkan kepada anaknya. Pendeta Dra. Dien Sumiyatiningsih menekankan bahwa keluarga merupakan institusi pertama dan utama di dalam pendidikan anak. Sehingga tanggung jawab pertama adalah di tangan orang tua bukan institusi lain seperti sekolah, yang sering dituduh gagal dalam memberikan pendidikan agama!

 

Peran seorang ibu dalam pendidikan sangat ditekankan, sebab seorang ibu dinilai lebih akrab dengan anaknya. Dalam hangatnya keakraban, ajaran agama bisa ditanamkan secara wajar; tidak dengan paksaan, karena ibu sendiri percaya kepada Allah dan kasih-Nya. Di dalam suasana keluarga, anak-anak diajari dasar-dasar agama dan ritualnya seperti berdoa, puasa, dll. Penting untuk dipahami bahwa seorang anak bisa mengenal tradisi dan ajaran agama dari orang tuanya.

 

Di samping itu, seorang anak juga akan memperoleh identitas keagamaan lewat pendidikan dan pergaulan dengan anak-anak lain. Oleh karena itu, pengenalan ajaran resmi (agama) melalui institusi pendidikan baik umum maupun berbasis agama menjadi tidak kalah pentingnya.

 

Pada pertemuan ini sudah banyak membicarakan bagaimana pendidikan agama diterapkan dalam keluarga. Banyak hal yang telah diperoleh dari diskusi itu. Meski demikian, perlu dilanjutkan untuk selalu membicarakan bagaimana pendidikan agama dijalankan dengan baik dan berhasil, mengingat perkembangan jaman.   

 

Untuk keberlanjutan program, pertemuan itu juga memunculkan gagasan kemungkinan dilakukannya perumusan visi bersama (lintas agama) dalam rangka pelayanan yang lebih relevan. Ini menjadi hal penting yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi kekhawatiran munculnya anggapan bahwa di dalam program terjadi pencampuran agama-agama. Tetapi yang perlu dipahami, program ini mendorong kesadaran bahwa setiap agama-agama mempunyai potensi untuk membangun masyarakat yang lebih adil dan lebih sejahtera.

 

* * *

 

*) Josien Folbert, adalah Staf Mitra Lembaga Percik Salatiga.

 

 

 

 

 

 

Pemutakhiran Terakhir ( Wednesday, 20 August 2008 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
.

Publikasi

Polling

Darimana anda mengetahui tentang Percik ?
 
© 2017 kampoeng percik
Joomla! est un logiciel libre distribué sous licence GNU/GPL.