Monday, 23 October 2017
   

Statistik

Anggota: 33098
Berita: 128
Pranala: 3
Pengunjung: 4340669
.
Surat Keprihatinan PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Tim SOBAT   
Tuesday, 18 March 2008

SURAT KEPRIHATINAN BERSAMA TERHADAP RENCANA PEMBUATAN FILM AL-QURAN OLEH GEERT WILDERS

Kami yang merupakan tokoh dan umat berbagai agama dan tergabung dalam forum lintas iman “SOBAT” yang diprakarsai oleh Lembaga PERCIK, Sinode Gereja Kristen Jawa, dan Wisma Santri Edi Mancoro Salatiga, Jawa Tengah-Indonesia, menyatakan keprihatinan akan adanya rencana dari Geert Wilders, seorang politikus di Belanda, untuk membuat dan menyiarkan film tentang Al-Quran. Film tersebut bertujuan untuk menunjukkan Kitab Suci Al-Quran adalah buku fasis dan menyatakannya sebagai sumber ilham bagi sikap ketidaktoleranan, kekerasan dan teror.

 

Dari berbagai sumber antara lain dari Ibu Josien Folbert dan Pendeta Jaspert Slob  (staf mitra PERCIK yang diutus oleh Kerk in Actie-Belanda) tertanggal 20 Januari 2008, kami tahu bahwa latar belakang ide pembuatan film tersebut terkait dengan situasi politik dan sosial di Belanda. Secara provokatif Geert Wilders ingin memanfaatkan sentimen agama dan keresahan sosial (antara lain terkait dengan  problem kehadiran penduduk migran khususnya dari Turki dan Maroko untuk memperoleh perhatian dan dukungan politik bagi kepentinganya sendiri,  

 
Dalam konteks negara Belanda, kami paham bahwa pembuatan film itu dimungkinkan karena adanya kebebasan berekspresi yang dijamin oleh sistem demokrasi di negara itu. Namun kami khawatir jika film itu tetap dilanjutkan akan membawa dampak negatif jauh melampaui konteks negeri Belanda sendiri. Kekhawatiran itu semakin  nyata karena kami juga mendengar bahwa di negeri Belanda telah muncul gejala Islamophobia serta meningkatnya gejala diskriminasi terhadap kelompok minoritas. 

 
Sejak enam tahun terakhir melalui forum lintas iman SOBAT, kami telah berusaha untuk membangun kembali relasi antar berbagai agama di
Indonesia. Program ini bertujuan, menjalin hubungan pertemanan antar tokoh dan umat dari berbagai agama dengan dasar kebebasan, keterbukaan dan saling percaya, membangun jaringan untuk bersama-sama mengatasi persoalan-persoalan lokal berdasarkan sumber-sumber yang ada pada tingkat lokal. Dengan cara itu kami berusaha agar sakit hati dan buruk sangka yang sudah lama mewarnai sejarah hubungan antar agama dapat dikurangi. Kami khawatir bahwa dengan pembuatan film ini akan berakibat pada semakin menguatnya rasa sakit hati dan mengeraskan buruk sangka yang bisa merusak hubungan antar agama, khususnya Muslim dan Kristen di banyak tempat dunia. Karenanya kami mendorong berbagai pihak untuk ikut melakukan upaya pembatalan pembuatan film tersebut.

 
Kami berpendapat bahwa sudah saatnya untuk sekuat tenaga menghentikan proses memperkuat buruk sangka sebagai bagian dari politik identitas. Disamping itu kami juga berpendapat bahwa sangatlah penting untuk memperluas proses belajar bersama hidup dalam kemajemukan secara damai, melakukan komunikasi dan dialog antar agama secara lebih intens dan terbuka, serta membangun jaringan lintas iman baik pada aras lokal maupun regional. kususnya dalam mengantisipasi kemungkinan munculnya kasus-kasus seperti ini di masa datang.

 
Dalam pertemuan ”SOBAT” pada pertengahan Januari 2008 lalu, kami telah  menyediakan waktu khusus untuk mendiskusikan dampak-dampak sosial politik yang akan terjadi di Indonesia, seandainya rencana pembuatan film ini tetap dilanjutkan. Kami mengkhawatiran kemungkinan munculnya gejolak sosial yang merusak hubungan antar umat beragama seperti yang terjadi pada respons sebagian umat Islam ketika muncul kartun dan karikatur Nabi Muhammad pada surat kabar di Denmark. Namun dalam pertemuan itu kami berbesar mendengar pendapat dari tokoh-tokoh Islam yang menyarankan agar kita tidak panik dan tetap dengan kepala dingin menanggapinya, karena hal seperti itu sudah terjadi sejak jaman Rasullullah SAW.

 
Kami juga ingin mendorong agar di masing-masing kelompok agama berupaya meredam kemungkinan reaksi yang bersifat tindak kekerasan dalam merespon isu ini. Upaya ini harus dilakukan karena di setiap agama terdapat umat yang beraneka ragam dalam cara mengekspresikan keimanannya. Dalam konteks inilah dialog yang lebih terbuka antar umat yang berbeda agama dan di lingkungan masing-masing agama  menjadi agenda yang tak terelakkan.

 
Demikian surat keprihatinan bersama ini kami serukan dengan harapan menjadi tambahan dukungan bagi setiap perjuangan untuk meredakan proses sakit hati dan kuatnya buruk sangka yang masih mewarnai hubungan antar agama.

 

Salatiga, 21 Februari 2008,

 

Teriring salam dalam perdamaian

Atas nama pemrakarsa SOBAT

 

Tertanda:

 

Dr. Pradjarta Dirdjosanjoto, SH., MA. (Lembaga PERCIK)

KH. Mahfud Ridwan, Lc (Wisma Santri Edi Mancoro)

Pdt. Yahya Tirta Prewita, STh., MA. (Sekretaris Umum Sinode GKJ)

Pemutakhiran Terakhir ( Wednesday, 20 August 2008 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
.

Publikasi

Polling

Darimana anda mengetahui tentang Percik ?
 
© 2017 kampoeng percik
Joomla! est un logiciel libre distribué sous licence GNU/GPL.