Thursday, 24 August 2017
   

Statistik

Anggota: 33088
Berita: 128
Pranala: 3
Pengunjung: 4316202
Saat ini ada 26 tamu online
.
Bila anak belajar pluralitas... PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Singgih Nugroho   
Tuesday, 20 November 2007

 

 

Pada tanggal 10 November 2007 lalu di Kampoeng Percik, telah diselenggarakan sebuah acara berjudul, ”Ketupat Persahabatan” (Syawalan multikultur untuk anak-anak). Acara ini diikuti oleh 50 anak dari tiga lembaga pendidikan berbasis agama dan sekuler di Salatiga, yaitu TPQ (Taman Pendidikan Quran) ”Roudlotul Qur’an”, Klaseman, Sekolah Minggu Gereja Kristen Jawa (GKJ) Sidomukti dan Kelompok Belajar Cemara.

Dalam acara ”Ketupat Persahabatan” itu, selama kurang lebih dua jam, anak-anak yang rata-rata berusia 7-12 tahun, dan belum saling mengenal satu dengan yang lain, serta bahkan tidak diberitahu maksud pokok acara oleh tutornya, berkumpul untuk saling mengenal. Mereka difasilitasi untuk tidak hanya saling mengenal dalam hal perbedaan nama, tempat belajar dan atribut seragam, tapi juga belajar untuk mengenal lebih jauh tentang n (praktek) jenis keimanan antar mereka.

 

Oleh karena acara ini mengambil momentum perayaan lebaran, maka nuansa keislaman menjadi lebih menonjol. Dua hal yang bisa disebut untuk penanda ialah penggunaan atribut seragam dan pilihan menu makan. Peserta dari TPQ, datang dengan seragam yang sama persis dengan seragam yang dipakai ketika belajar di TPQ, yaitu peci, baju koko untuk laki-laki dan jilbab untuk perempuan. Sementara untuk menu makan, disajikan opor ayam dan ketupat, jenis makanan yang lazim disajikan oleh sebagaian besar umat Islam di Indonesia usai melaksanakan Salat Ied. 

Secara teknis, kegiatan ini dilakukan dalam lima rangkaian susunan acara yaitu, perkenalan dengan menggunakan model permainan lokomotif, peragaan Salat Ied (Iedul Fitri) oleh siswa TPQ Roudhatul Quran, bermain tamu-tamuan untuk mengenalkan tradisi Halal bi Halal (saling memberi maaf), kesan dan pesan dari peserta, makan ketupat bersama-sama dengan diawali doa makan dari berbagai agama secara bergantian, dan diakhiri oleh pesta Kembang Api.

Di sela-sela acara itu, para peserta diajak untuk menyanyikan lagu berjudul, ”Kita Beda, Kita Sama”, yang digubah dari lagu ”Lihat Kebunku”. Berikut ini syair lengkap dari lagu tersebut:

Marilah kawan kita bersalaman
Kita bersaudara meski kita beda
Kita memang beda tapi kita sama
Perbedaan itu anugerah Tuhan

Menurut pengamatan, meski pada mulanya para peserta tidak mengerti tujuan utama acara ini, karena para penggagas bersepakat untuk tidak mengatakannya lebih dulu, namun ternyata mereka mengikuti acara demi acara dengan antusias. Memang pada awalnya, mereka tampak masih belum tune in, antara lain ditandai dengan kecenderungan untuk hanya mau duduk bareng serta memilih teman-temannya yang sudah dikenalnya saja ketika dilakukan permainan lokomotif untuk perkenalan, tapi setelah dilakukan simulasi perkunjungan ke rumah-rumah, suasana pun mulai mencair. Para peserta mulai berani membaur satu dengan yang lain. Kelaziman perilaku anak yang tidak mau ”tenang” pun mewarnai kegiatan ini. Meski perilaku ”ketidaktertiban” dari peserta itu cukup merepotkan panitia, namun pada bagian lain, kegairahan peserta itu telah mampu memberi tambahan amunisi luar biasa bagi upaya untuk untuk meneruskan penyemaian dan perluasan gagasan ini ke masa-masa selanjutnya.

Sejarah Progam

Acara ini merupakan salah satu rangkaian  program kegiatan bertema, “Kita Beda, Kita Sama,”. Program ini mempunyai tujuan besar, yakni menyediakan wadah untuk belajar menerima perbedaan dalam berbagai hal (agama, status sosial, ekonomi dan etnis) dan memfasilitasi anak dengan kegiatan yang mendorong dan meningkatkan kecerdasan emosional anak. Secara khusus, program ini mempunyai empat tujuan, yakni mendorong anak mengenal teman yang berbeda latarbelakangnya, mengajak anak bisa terbuka dan menghargai perbedaan temannya, serta mendorong anak untuk berani mengungkapkan pendapatnya tanpa takut berbeda dari temannya. Beberapa kegiatan lain yang diagendakan diantaranya ialah, ”Cemara Kasih” (pada momen perayaan Natal), ”Angpao Pelangi” (pada acara Sincia Gong Xi Fa Choi), dan Festival Budaya Anak.

Program ini digagas oleh beberapa individu (hampir semuanya adalah perempuan dan seorang laki-laki) dari berbagai latarbelakang profesi, seperti pendeta, guru, dosen, aktivis dialog antar iman, dan penggiat pendidikan alternatif. Program ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan atas kondisi sosial baik dalam konteks global, (khususnya) nasional, maupun lokal, di mana sikap untuk menerima dan menghargai perbedaan kurang mendapat ruang yang besar. Keramahan terhadap perbedaan, khususnya dalam aspek agama, masih menemui kendala serius yang disebabkan oleh berbagai sebab, terutama faktor intervensi kekerasan politik identitas dari sebagian kalangan masyarakat.

Dalam situasi tersebut, lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi oase untuk mengelola perbedaan itu secara bijak ternyata justru menjadi bagian dari benalu kekalutan itu sendiri. Akibatnya, anak-anak yang lahir dengan segala kepolosan tanpa mengenal pengkotak-kotakan karena perbedaan, justru atas nama pendidikan menjadi korban dalam situasi yang diciptakan oleh ulah segelintir orang dewasa yang sejatinya bagi mereka merupakan generasi pendatang.

Pelajaran yang bisa dipetik

Sejak awal para penggagas telah menyadari bahwa tantangan perwujudan gagasan itu tidak mudah. Yang pertama kali dibutuhkan syarat, adanya kesediaan untuk melakukan dialog iman dalam diri mereka, baru setelah itu kesediaan untuk membangun dialog dengan komunitas basis dan dengan pihak di luar itu. Syarat penting lain adalah penguasaan pengetahuan (termasuk pemahaman teologis) lebih dari cukup, baik untuk kepentingan memantapkan diri sendiri atas pilihan ini, tetapi juga sebagai modal dasar ketika dimintai pertanggungjawaban oleh pihak lain.

Hal-hal tersebut di atas menjadi faktor penting untuk tidak diabaikan. Dalam evaluasi panitia tiga hari kemudian, tercatat bahwa selain ada beberapa indikasi keberhasilan, tapi di sisi lain, juga muncul tantangan yang menghadang. Indikasi keberhasilan itu antara lain, ialah munculnya dukungan baik dari pihak peserta (misalnya: antar peserta senang memperoleh serta menambah teman dan pengetahuan baru tentang jenis keimanan yang lain), maupun dukungan dari orang tua peserta (Ibu-ibu dari GKJ sangat senang dengan kegiatan ini karena menawarkan pengalaman batin tentang perbedaan sejak kecil).

Sementara itu salah satu tantangan yang muncul ialah kegiatan itu telah mendorong pergumulan iman dari sebagian anak (peserta). Penggiat Kelompok Belajar Cemara menceritakan, seorang siswanya yang mempunyai latar belakang agama keluarganya beragam, dimana ibunya Islam dan neneknya Katolik, ketika melihat simulasi Salat Ied, siswa tersebut meminta ijin kepadanya untuk ikut Salat Ied. Si guru melarangnya sejauh dia tahu, anak tersebut setiap minggu pergi ke gereja karena ikut neneknya yang  beragama Katolik. Tidak puas dengan larangan itu, usai acara si anak melakukan protes kepada sang guru. ”Kenapa Bu guru melarang saya ikut salat?”, tanya si anak. Sang guru menjawab, karena kamu Katolik dan salat hanya untuk orang yang beragama Islam.”Tapi kan kalau sedang bersama dengan ibu, saya ikut salat”, ujar si anak yang merasa tidak puas dengan jawaban sang guru. Mendengar jawaban si anak, Si guru yang beragama Islam dan masih belajar di UKSW itu tampak terkejut. Ia lalu menandaskan lebih dalam, ” Iya tapi kan sekarang kamu sedang ikut nenekmu yang Katolik. Jadi kamu sekarang adalah seorang Katolik.” Meski si anak tampaknya kembali tidak puas dengan jawaban itu, tapi dialog pun berhenti sampai di situ. Bagi sang guru, kejadian itu telah memberinya pergumulan batin sehingga dimunculkan ketika rapat evaluasi panitia.

Kejadian itu ternyata juga dialami oleh anak dari Sekolah Minggu GKJ Sidomukti. Seorang aktivis program ini, yang merupakan isteri dari pendeta gereja tersebut, menceritakan, ada seorang anak Sekolah Minggu yang bertanya kepadanya, ”Kenapa  kalau orang Islam melakukan salat, imamnya laki-laki? Kenapa tidak perempuan?”. Pertanyaan itu muncul karena dalam tradisi Kristen Protestan, terdapat pendeta perempuan dan bisa memimpin peribadatan anggota jemaat baik laki-laki maupun perempuan. Isteri pendeta itu lalu menjawab, ”Karena ajaran di Islam mengajarkan bahwa imam salat harus laki-laki dan kita sebagai orang yang tidak beragama Islam harus menghormati ajaran tersebut.” agak berbeda dengan kasus di Kelompok Belajar Cemara, tampaknya si anak langsung bisa menerima jawaban tersebut.

Mendengar cerita ini, penggiat dari TPQ dan dari kalangan Islam menyarankan bahwa sebaiknya si anak diberi jawaban yang standar dulu, meski sebenanya ini menyangkut diskusi yang sangat berat berkaitan dengan Islam dan Fiqh kesetaraan perempuan. Saran mereka misalnya, wanita diperbolehkan memimpin salat jika dalam situasi dimana, tidak ada laki-laki, semua jemaatnya perempuan, atau ada jemaat laki-lakinya tapi dia masih belum dewasa dan dalam kategori mualaf (orang yang baru masuk Islam).

Namun pada bagian lain, dua cerita itu memberikan kesadaran penting bagi mereka untuk menambah diskusi mendalam tentang bagaimana hubungan antar agama di atur dalam ajaran agama-agama dan bagaimana masyarakat memahami serta mempraktekkan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari. .

Akhirnya upaya yang dilakukan oleh penggagas progam ini memang masih sangat awal dan belum bisa melakukan banyak hal. Meski demikian, setidaknya mereka telah mewujudkan gagasannya itu tidak hanya berwujud dalam pergumulan di angan-angan, namun sekecil apapun mereka sudah merealisasikannya dalam bentuk praksis.

 

Singgih Nugroho

 

Pemutakhiran Terakhir ( Friday, 14 March 2008 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
.

Publikasi

Polling

Darimana anda mengetahui tentang Percik ?
 
© 2017 kampoeng percik
Joomla! est un logiciel libre distribué sous licence GNU/GPL.