Thursday, 24 August 2017
   

Statistik

Anggota: 33088
Berita: 128
Pranala: 3
Pengunjung: 4316034
Saat ini ada 1 tamu online
.
Seminar-seminar PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Administrator   
Wednesday, 17 October 2007
Kegiatan seminar, diskusi, dan loka karya diselenggarakan oleh Percik sebagai wahana untuk bertukar wacana, belajar bersama mengenai topik-topik yang diminati, mendesiminasikan dan membahas hasil-hasil penelitian, serta melakukan refleksi kritis terhadap perkembangan masyarakat dan ilmu pengetahuan. Dalam penyelenggaraan seminar, diskusi, dan lokakarya, nilai-nilai kebebasan, keterbukaan, dan kritis mendapat perhatian dan pengutamaan.
Tema-tema berikut menjadi pokok bahasan Lembaga Percik:

1. Seminar di seputar masalah Hak Asasi Manusia dan Kebebasan Beragama

(a) Seminar Nasional bertema "Agama, Hak Asasi Manusia dan Peran Negara dalam Mengatur Agama serta Kebebasan Beragama di Indonesia" (Juni 1996).
Seminar ini diselenggarakan oleh Percik bekerjasama dengan Dian Interfidei dan Matakin di Bandungan, Ambarawa pada 15 Juni 1996. Seminar ini merupakan keikutsertaan Percik bersama dengan berbagai pihak dalam memperjuangkan pengakuan terhadap eksistensi agama Kong Hu Cu di Indonesia.

(b) Seminar tentang "Sumbangan Agama-agama dalam Menopang Transformasi Sosial, Ekonomi, dan Politik di Indonesia" dan "Dialog 90 Menit bersama Presiden Gus Dur" (Mei 2000).
Seminar sehari yang diselenggarakan oleh Komunitas Lintas Agama Jawa Tengah dan DIY, dimana Percik menjadi salah satu pemrakarsanya, dilaksanakan di Salatiga pada 13 Mei 2000. Seminar ini menghadirkan para tokoh agama di Jawa Tengah dan DIY, dan dihadiri oleh Presiden Abdurrahman Wahid sebagai salah seorang pembicara inti.

(c) Seminar tentang Gejala Fundamentalisme di Indonesia. (Januari 2003)
Seminar ini diselenggarakan di Kampoeng Percik, membahas gejala fundamentalisme yang disinyalir menguat di Indonesia. Pembicara dalam seminar ini antara lain Ulil Abszar Abdalla yang membahas tentang fenomena fundamentalisme agama di Indonesia dan Dr Philip Quarles van Ufford yang membahas fundamentalisme sekuler. Seminar ini merupakan penghormatan kepada Almarhum Dr Th Sumartana sebagai ilmuwan yang menaruh banyak perhatian kepada gejala fundamentalisme.

Kembali ke awal  

2. Seminar, Lokakarya dan Diskusi mengenai Pemilu 1999

Dalam rangka menyongsong Pemilu 1999, pemilu pertama pasca runtuhnya rejim Orde Baru, Percik menyelenggarakan serangkaian seminar, loka-karya ataupun diskusi berikut:


(a) Seminar Nasional mengenai "Peran Gereja dalam Pendidikan Pemilih" (Februari 1999).
Seminar ini dilaksanakan dalam rangka mendorong kepedulian lembaga-lembaga keagamaan, dalam hal ini Gereja, untuk ikut memberi perhatian kepada Pemilu 1999 sebagai sebuah peluang baru untuk pengembangan kehidupan berdemokrasi pasca runtuhnya kekuasaan Suharto. Seminar ini memberi wahana kepada para tokoh gereja untuk mendiskusikan berbagai perubahan politik muthakhir pasca rejim Suharto, serta sumbangan gereja terhadap masa depan Indonesia. Pemakalah dalam seminar ini antara lain Hebert Feith, Frans Magnis Suseno, Th Sumartana, Roberto Reyes dan Cornelis Lay. Seminar nasional ini diselenggarakan di Semarang pada tanggal 1-3 Februari 1999 dihadiri oleh tokoh-tokoh Gereja dari berbagai denominasi.

(b) Seminar Sehari tentang "Tiga Undang-Undang Bidang Politik dan Pemilu 1999: Antara Harapan dan Kekhawatiran". (Maret 1999)
Seminar ini merupakan upaya untuk melakukan kajian kritis terhadap keluarnya Paket Undang-Undang Politik 1999. Seminar diadakan di Salatiga pada tgl 2 Maret !999, dihadiri oleh para pengamat politik, aktivis LSM, aktivis mahasiswa, aktivis Partai Politik. Pembicara dalam seminar antara lain Prof Ramlan Surbakti, Dr Riswanda Imawan, Dr Pradjarta Ds, Dr. Kutut Suwondo, dan Drs. Bambang Suteng Sulasmono.

(c) Seminar mengenai "Demokrasi, dan Hak-hak politik warga negara" (Mei 1999)
Guna mempersiapkan masyarakat luas menghadapi Pemilu di era baru, seminar ini diadakan dengan tujuan untuk melakukan kajian kritis atas peraturan perundang-undangan di bidang politik, memberikan pemahaman tentang peran partai politik dan kandidat wakil rakyat, serta mendalami pengertian tentang hak-hak dan kewajiban masyarakat dalam kehidupan yang demokratis. Seminar ini dilaksanakan di Salatiga pada tgl 13 Mei 1999.

(d) Semiloka tentang "Mempersiapkan Masyarakat Pasca Pemilu: Ke arah Pemberdayaan Lembaga-lembaga Demokrasi" (Juli 1999).
Pemilu sebagai salah satu saluran perwujudan demokrasi tidaklah dapat dianggap selesai hanya dengan telah terpilihnya partai-partai politik pemenang, anggota legislatif ataupun bahkan pemimpin baru. Pemilu baru lah langkah awal kepada perwujudan masyarakat dan pemerintahan yang demokratis. Dengan Pemilu ketegangan-ketegangan dalam masyarakat teralihkan dan diakomodasikan melalui partai-partai politik.
Semiloka ini melakukan kajian kritis tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR dan DPRD sebagaimana ditetapkan dalam Undang-undang no. 4 tahun 1999, mengkaji lebih dalam peran partai politik dalam memberdayakan legislatif serta upaya-upaya mengoptimalkan anggota legislatif dalam melakukan tugas dan wewenangnya, memberikan pemahaman tentang pentingnya pembentukan public opinion dalam rangka demokratisasi di Indonesia, dan memperkuat Jaringan pemberdayaan pemilih yang telah terbentuk sebelumnya untuk mewujudkan Civil Society pasca Pemilu 1999. Semiloka ini diadakan di Salatiga pada tanggal 6-7 Juli 1999.

(e) Seminar tentang "Pemilu 1999 dan Demokratisasi di Pedesaan Jawa " (Desember 1999)
Seminar ini secara khusus membahas hasil pengamatan Percik mengenai palaksanaan Pemilu 1999 sebagai pemilu multi partai, di tiga desa penelitian di sekitar Salatiga. Seminar dilaksanakan di Salatiga pada tgl 21 Desember 1999.

3. Seminar tentang Desentralisasi dan Otonomi Daerah.

Sejak diundangkannya UU No 22 tahun 1999 Indonesia memasuki 'era baru' desentralisasi. Perhatian Percik terhadap proses desentralisasi antara lain dilakukan melalui penyelenggaraan seminar, lokakarya, dan diskusi.

(a) Seminar tentang "Otonomi Daerah: antara Harapan dan Kenyataan" (Nopember 1999)
Meski terdapat pro dan kontra menyusul kelahiran UU No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, masa depan desentralisasi di Indonesia telah diawali dengan keluarnya Undang-Undang yang baru tersebut. Seminar ini mencoba menyoroti secara kritis makna Undang-Undang No 22 Th 1999 itu bagi masa depan desentralisasi di Indonesia. Seminar sehari ini dilaksanakan di Salatiga pada tgl 3 Nopember 1999 dengan pembicara antara lain Prof Dr. I.S Susanto dan Prof Sutandyo.

(b) Seminar tentang "Otonomi Masyarakat Desa: Mencermati Format Kebijakan tentang Desa" (Mei 2001)
Seminar ini membahas tentang konsep ideal mengenai kebijakan tentang desa dipandang dari sudut masyarakat setempat. Seminar yang diselenggarakan oleh Percik bekerjasama dengan LAPERA Yogyakarta, di Bandungan, pada tanggal 4 Mei 2001 ini mencoba menampung gagasan-gagasan dari bawah untuk disampaikan kepada Depdagri sebagai masukan bagi perubahan kebijakan tentang desa. Pokok-pokok bahasan dalam seminar ini antara lain menyangkut sejarah pasang surut otonomi di Indonesia, mengupayakan pemerintah lokal yang bersih dan berwibawa, pelayanan publik di tingkat lokal; dan evaluasi kritis terhadap UU No 22 Tahun 1999.
Sejak tahun 2000 dengan penyelenggaraan Seminar Tahunan Dinamika Politik Lokal, maka tema-tema bahasan mengenai desentralisasi dan otonomi daerah diintegrasikan ke dalam seminar tahunan itu.

Kembali ke awal  

4. Seminar Internasional Tahunan tentang Dinamika Politik Lokal di Indonesia.

Landasan pikir yang melatarbelakangi penyelenggaraan seminar ini adalah niat untuk mengembangkan perhatian para ilmuwan sosial dan ilmuwan kemanusiaan kepada gejala dinamika politik lokal yang selama masa Orde Baru tidak memperoleh peluang untuk berdinamika. Selama ini penelitian-penelitian tentang dinamika politik dan analisisnya cenderung didominasi oleh perhatian kepada dinamika pada aras nasional. Seminar-seminar tahunan, yang telah diselenggarakan oleh Percik terlaksana dengan dukungan logistik dari The Ford Foundation di Jakarta, menetapkan "Dinamika Politik Lokal di Indonesia" sebagai fokus telaahan.

(a) Seminar Internasional I dengan tema, "Dinamika Politik Lokal di Indonesia : Perubahan, Tantangan, dan Harapan", (Juli 2000)
Seminar ini membahas empat topik :
(1) Reformasi Pemerintah Lokal dan Administrasi Publik
(2) Pola Perubahan Pemerintahan Desa dan Kepemimpinan Lokal.
(3) Politik Lokal sesudah Reformasi, dan
(4) Gerakan Sosial dan Masyarakat Sipil (Civil Society).
Seminar ini diselenggarakan 3-7 Juli 2000 di Yogyakarta, membahas 29 makalah dan diikuti oleh 80 orang peserta dari dalam dan luar negeri.

(b) Seminar Internasional II dengan tema. "Dinamika Politik di Indonesia : Politik Pemberdayaan", (Agustus 2001).
Seminar ini membahas empat topik :
(1) Desentralisasi pada tingkat lokal,
(2) Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat pad Aras Lokal,
(3) Pelembagaan Politik Lokal, dan
(4) Keuangan Daerah.
Seminar ke II ini diselenggarakan dalam kerjasama dengan LSM Riau Mandiri pada 13-16 Agustus 2001 di Pekanbaru. Ada 36 makalah yang dibahas, dengan jumlah peserta yang hadir sebanyak 67 orang.

(c) Seminar Internasional III, menyorot tema "Dinamika Politik Lokal di Indonesia : Pluralitas dalam Perspektif Lokal", (Juli 2002).
Seminar ini membahas lima topik, yaitu :
(1) Local State dan Pluralitas,
(2) Pergulatan Identitas dan Politik Identitas,
(3) Pengembangan dan Pelembagaan Partisipasi Politik Lokal,
(4) Pengelolaan Pluralitas dalam Kerangka Desentralisasi, dan
(5) Politik Wacana pada aras Lokal.
Seminar ini diselenggarakan 9-12 Juli 2002 di Kampoeng Percik Salatiga. Ada 44 makalah yang dibahas dan dihadiri oleh 83 orang.

(d) Seminar Internasional IV dengan tema "Dinamika Politik Lokal di Indonesia : Partisipasi dan Demokrasi " (Juli 2003).
Seminar ini membahas sejumlah makalah yang menganalisis delapan topik, yaitu :
(1) Wacana dan Perilaku Sosial Politik menjelang Pemilu 2004.
(2) Pelembagaan Partisipasi Politik,
(3) Primordialisme dan Politik Lokal,
(4) Konflik dan Kekerasan
(5) Otonomi Daerah dan Politik Lingkungan,
(6) Peran Perempuan dalam Politik Lokal,
(7) Nasib Sumber daya Alam, dan
(8) Seni dan Ekspresi Politik Lokal

Seminar ini diselenggarakan 14-19 Juli 2003 di Kampoeng Percik. Selain The Ford Foundation dan Percik, seminar ini didukung pula oleh Oxfam, Hong Kong. Ada 45 makalah yang dibahas dalam seminar yang dihadiri 92 orang ini.

(e) Seminar Internasional V dengan tema " Dinamika Politik Lokal di Indonesia : Demokrasi dan Potret Lokal Pemilu 2004".
Seminar kali ini yang semula merencanakan membahas lima topik tetapi karena topik kelima tentang Etika dalam Pemilu tidak memperoleh pemakalah, membahas empat topik, yaitu :
(1) Potret Lokal Pemilu 2004 di Indonesia,
(2) Peran Elit Lokal, Solidaritas Sosial, dan Representasi Politik dan Adat dalam Pemilu,
(3) Peran Birokrasi Lokal dalam Pelayanan Publik dalam Pemilu, dan
(4) Protes dan Advokasi kebijakan Berkaitan dengan Pemilu.
Seminar ini diselenggarakan 14-17 Juli 2004 di Kampoeng Percik dengan 44 makalah dan dihadiri oleh 72 orang peserta.
Sejak pertama kali diselenggarakan perkembangan jumlah ilmuwan peserta yang memfokuskan perhatiannya dalam gejala dinamika politik lokal berkembang dari 80 orang, 67 orang (di Pekanbaru), 83 orang, 92 orang, dan 72 orang dengan jumlah pemakalah dari 29, 36, 44, 45, dan 44 pemakalah selama lima seminar internasional itu, dan diharapkan menjadi 49 pemakalah pada Seminar Internasional VI Agustus yang akan datang.
Makalah-makalah yang dibahas dalam seminar internasional itu adalah tulisan berdasarkan analisis terhadap karya penelitian. Dengan demikian rangkaian seminar ini telah merekam pemahaman aktual tentang berbagai segi dari gejala dinamika politik lokal. Para pemakalah berasal dari berbagai lembaga, baik lembaga keilmuan maupun lembaga advokasi dan lembaga pemerintahan, sehingga forum seminar ini mempertemukan telaahan berdasarkan minat keilmuan maupun telaahan atas pengalaman praktis politik dan pemerintahan. Makalah-makalah menyajikan analisis tentang gejala dinamika politik lokal di berbagai daerah di Indonesia (Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua). Sedangkan para pemakalah sebahagian besar berasal dari berbagai daerah di Indonesia ditambah sejumlah kecil pemakalah dan partisipan aktif dari luar Indonesia (antara lain Belanda, Amerika Serikat, Australia, Jepang, Jerman).
Untuk memelihara dan mengembangkan forum komunikasi seminar para ilmuwan dinamika politik lokal, maka tradisi yang telah dimulai itu akan diselenggarakan dengan menyelenggarakan seminar ini sekali setahun.

(f) Seminar Internasional VI dengan tema, " Dinamika Politik Lokal : Etika, Politik, dan Demokrasi" (Agustus 2005)
Pada tanggal 2-5 Agustus 2005 diselenggarakan seminar internasional yang ke 6 di Kampoeng Percik. Temanya adalah "Dinamika Politik Lokal : Etika, Politik, dan Demokrasi", suatu tema yang dipilih antara lain karena tidak ada satupun makalah tentang topik etika pada Seminar yang ke V yang lalu. Tema itu juga relevan dengan situasi politik yang menunjukkan keprihatinan terhadap dimensi etis dari kehidupan politik riil di Indonesia. Tiga topik yang dibahas, yaitu :
(1) Dimensi etis dalam pelembagaan politik yang demokratis dalam dinamika Pilpres 2004 dan Pilkada 2005.
(2) Dimensi etis dalam pelembagaan politik yang demokratis dalam dinamika politik di lingkungan civil society (mis.: LSM, kelompok profesi, dunia bisnis, parpol, kelompok keagamaan, dunia akademik, dll.), dan
(3) Dimensi etis dalam pelembagaan politik yang demokratis dalam dinamika kegiatan di lingkungan eksekutif dan legislatif.
Dari sejumlah 70 pelamar lewat prosedur calling for papers telah terseleksi sebanyak 42 pemakalah yang diundang untuk menyajikan makalahnya.

(g) Seminar Internasional VII dengan tema, “ Dinamika Politik Lokal : Ruang untuk Memperjuangkan Kepentingan Politik” (Juli 2006)

Seminar ini diselenggarakan di Kampoeng Percik , Salatiga pada tanggal 11 – 14 Juli 2006, yang diawali dengan acara peringatan Hari Ulang Tahun Percik ke-10. Ada tiga topik yang dibahas secara lebih rinci dalam seminar ini, yaitu: Wacana –wacana Politik Lokal (”Wacana”), Mobilisasian Kekuatan Penekan dalam Dinamika Politik Lokal (”Mobilisasian”), Pengelolaan Realitas Politik Lokal (”Pengelolaan”).

Dari 65 pelamar ada 37 makalah (56,9%) yang diundang ke pertemuan ini. Selain itu ada tiga kelompok peneliti muda yang juga diundang untuk berpartisipasi dalam peristiwa ini. Dengan demikian ada 39 makalah akan disajikan dan dibahas. Dari 28 pelamar yang belum dapat diundang (43,1%) ada 14 peserta yang diundang sebagai partisipan aktif, dan seorang partisipan aktif yang datang dengan biaya sendiri. Jadi, jumlah semua peserta ada sebanyak 49 peserta yang membawa 39 makalah ditambah dengan 15 partisipan aktif, atau 64 peserta seluruhnya.

Makalah-makalah yang telah disiapkan oleh para peserta dapat dipetakan dalam topik-topiknya sebagaimana disebutkan di atas. Dalam topik ”Wacana” akan dibahas dua sub topik. Pertama, wacana dan pembaharuan politik lokal dan peranan media massa dalam politik lokal. Topik kedua, pergulatan dan pergeseran wacana dalam politik lokal. Dalam topik ”Mobilisasian” ada tiga sub topik, yaitu: (1) mobilisasi kekuatan penekan, (2) mobilisasi dan eksploitasi identitas etnik, dan (3) variasi respons terhadap tuntutan publik.


Seminar-seminar internasional yang telah diselenggarakan ini memunculkan sejumlah hasil, yaitu :
(1) publikasi prosiding tiap seminar,
(2) sejumlah artikel terseleksi yang diterbitkan dalam jurnal Renai,
(3) publikasi sejumlah buku tentang dimensi-dimensi politik lokal,
(4) teridentifikasikannya sejumlah pemerhati gejala dinamika politik lokal di Indonesia dan di luar Indonesia s/d 2004 yang lalu telah tercatat sebanyak 255 orang.

5. Seminar Jurnal Renai yang diadakan dua kali per tahun

Penyelenggaraan seminar oleh Jurnal Renai adalah salah satu mekanisme agar tersedia artikel-artikel yang memenuhi syarat untuk diterbitkan oleh jurnal itu. Pembahasan kritis terhadap makalah-makalah yang diundang untuk berpatisipasi dalam seminar jurnal itu mendorong dilakukan penulisan ulang oleh pemakalah dengan mempertimbangkan masukan yang muncul dalam seminar. 

(a) Seminar I, dengan tema "Politik Swadaya" Juni 2001.
Seminar ini diselenggarakan di Bandungan, Ambarawa 27-28 Juni 2001 membahas sembilan topik, yaitu:
(1) Kepemimpinan Lokal,
(2) Perubahan Struktur Birokrasi Pemda,
(3) Persoalan dan Kendala terhadap Kemandirian Petani,
(4) Penguatan Budaya Lokal,
(5) Kemunculan dan Perubahan Orientasi Media Lokal,
(6) Kemandirian Sistem Pendidikan di Daerah,
(7) Fenomena Kesetaraan Gender di Daerah,
(8) Orientasi Ormas dan Orpol di daerah, dan
(9) Perubahan Wacana Pembangunan.
Ada 19 makalah yang dibahas dalam seminar ini.

(b) Seminar II, dengan tema "Representasi Budaya Daripada Masyarakat Transisi" (Mei 2002).
Seminar ini membahas 10 makalah, diselenggarakan di Kampoeng Percik, Salatiga pada 30-31 Mei 2002,.

(c) Seminar III, dengan tema "Otonomi Daerah : Kajian Politik dan Ekologi" (Mei 2003).
Seminar ini diselenggarakan di Kampoeng Percik, Salatiga, pada 2-3 Mei 2003 dengan topik-topik sebagai berikut :
(1) Domain Politik,
(2) Domain Ekologi.
Sejumlah 18 makalah dibahas.

(d) Seminar IV, dengan tema "Seksualitas di dalam Masyarakat Plurisentric" (Desember 2003).
Seminar ini diselenggarakan di Kampoeng Percik, Salatiga, pada 12-13 Desember 2003, membahas lima topik berikut :
(1) Seksualitas dalam Hukum,
(2) Kekerasan Domestik,
(3) Seksualitas dan Budaya Populer
(4) Seks, Ideologi, dan Politik, dan
(5) Seksualitas, Kesehatan, dan Reproduksi.
Sejumlah 12 makalah dibahas dalam forum yang dihadiri oleh 27 peserta seminar.

(e) Seminar V, dengan tema "Media Massa dan Penguatan Masyarakat Sipil" (Nopember 2004).
Seminar ini diselenggarakan di Kampoeng Percik, Salatiga, pada 26-27 November 2004, membahas lima topik, yaitu :
(1) Perilaku Bisnis dan Politik dalam Dunia Media Massa,
(2) Aspek Hukum Media Massa,
(3) Berelasi dengan Media Massa,
(4) Penegakan Etika Media Massa, dan
(5) Media Massa dan Masyarakat Sipil.
Ada 12 makalah yang dibahas dalam seminar yang dihadiri oleh 20 peserta itu.

(f) Seminar VI, dengan tema "Air : Hak Asasi vs Komodifikasi" (Februari 2005).
Seminar diselenggarakan 25-26 Februari 2005 di Kampoeng Percik, Salatiga, membahas empat topik berikut :
(1) Konflik Air,
(2) Kearifan Pengelolaan Air,
(3) Air dan Lingkungan, dan
(4) Tata Kelola Air.
Sejumlah 18 makalah dibahas oleh 39 peserta seminar ini.

(g) Seminar VII, dengan tema "Perubahan Nilai Sosial-Humaniora" (Juli 2005).
Seminar diselenggarakan 8-9 Juli di Kampoeng Percik, Salatiga, membahas empat topik berikut :
(1) Perubahan di Dalam Nilai-nilai Politik
(2) Perubahan Nilai-nilai Dalam Dunia Pendidikan
(3) Perubahan Nilai-nilai di Dalam Kebudayaan
(4) Perubahan Nilai-nilai Sosial

(h) Seminar VIII, dengan tema "Bioetika : Masalah, Tantangan, dan Peluang" (April 2006).
Seminar diselenggarakan 12-13 April 2006 di Kampoeng Percik, Salatiga, membahas lima topik berikut :
(1) Penelitian Sel Tunas ke arah Peminakan Sel Tunas Terapeutik
(2) Pencangkokan Organ, Sungsum dan Jaringan
(3) Eugenika
(4) Aborsi, MR dan Cara-cara Kontrasepsi
(5) Euthanasia

(i) Seminar IX, dengan tema "DUA WAJAH GLOBALISASI PANGAN : Tantangan bagi Petani dan Konsumen Lokal" (Juli 2006)
Seminar diselenggarakan 1 Juli 2006 di Kampoeng Percik, Salatiga, membahas lima topik berikut :
(1) Ancaman Globalisasi Pangan
(2) Pangan Lokal: Tantangan dan Peluang
(3) Hak dan Kemandirian Petani
(4) Perdagangan Global dan Standarisasi Produk
(5) Keragaman Hayati dan Kecukupan Pangan

Kembali ke awal  

6. Seminar Tamu. 

Beberapa ilmuan tamu dari dalam dan luar Indonesia menyampaikan pokok-pokok pikiran mereka pada forum Seminar Tamu, diantaranya:
a. Dr. N.G. Schulte Nordholt dari Twente University, Negeri Belanda, tentang "Konstelasi Politik Menjelang Pemilu 1999", Mei 1999;
b. Prof. Arief Budiman dari Melbourne University, Australia, mengenai "Peluang Golkar memenangkan Pemilu 1999", Juni 1999,
c. Dr. Ph Quarles van Ufford dari Free University, Amsterdam, mengenai "Mengenal Pemikiran Filosofis Michael Foucault" dan "Knowledge and Ignorance in the Practice of Development Policy", Agustus 1999;
d. Prof Sutandyo dari Universitas Airlangga, Surabaya, tentang "Mewujudkan Supremasi Hukum: Memotret Bekerjanya Hukum Kita" , Maret 2000;
e. Prof Robert Hefner dan Dr. Lance Castle, tentang "Kemungkinan Munculnya Kembali Fenomena Aliran dalam Faksionalisasi Politik di Tingkat Lokal", Juli 2000,
f. Dr. Ph. Quarles van Ufford, tentang "Etika Intervensi dalam Pembangunan" , Desember 2000;
g. Dr. Oscar Salemink dari Free University, Amsterdam, mengenai "Religious Revival in Southeast Asia", Agustus 2003

Kembali ke awal

7. Seminar dengan Tema Khusus;

(a) Seminar Internasional bertema "Development as Global Responsibilities: in Search of a New Moral Understanding of Development and Its Practices" (Desember 2003).
Seminar ini diselenggarakan di Kampoeng Percik Salatiga, 19-20 Desember 2003, mengacu kepada terbitnya buku A Moral Critique of Development; in search of global responsibilities ( Philip Quarles van Ufford and Ananta Kumar Giri editor; London: Routledge, and Yogyakjarta: Kanisius).

(b) 14th Workshop European Social Science Java Network (Januari 2005)
European Social Science Java Network (ESSJN) merupakan suatu forum yang mempertemukan para ilmuwan dan peminat sosial untuk mendiskusikan isu-isu kontemporer yang terkait dengan "Jawa" sebagai fokus. Pertemuan yang dilakukan setiap tahun ini telah berlangsung selama 13 kali dengan mengambil tempat di beberapa negara Eropa, seperti Belanda, Jerman, Perancis, dan Swiss. Forum ini selain beberapa kali mengalami perubahan nama (yang lebih umum disebut "Java Network") juga mengalami perubahan orientasi tempat dalam penyelenggaraan. Pertama, forum ini ingin melibatkan para ahli di luar Eropa untuk menempatkan forum ini lebih bersifat internasional, khususnya dengan melibatkan ahli dari Jepang, Australia, dan Amerika. Kedua, penyelenggaraan mulai dilakukan tidak hanya di Eropa tetapi juga sejak tahun ini di Indonesia, khususnya di Jawa.
Lokakarya ESSJN yang ke-14 ini mendiskusikan dua tema pokok yang dianggap relevan untuk dibawa kembali dalam forum, yaitu: (1) Youth and Identity in Java, serta (2) Religions in Java. Pelaksanaan lokakarya difasilitasi oleh Percik bersama CRCS Gajah Mada, Yogyakarta dan mengambil tempat di Salatiga dan Yogyakarta.

Kembali ke awal 

8. Seminar mengenai Metodologi Penelitian

Untuk membekali peneliti pemula tentang pengetahuan metodologi penelitian, Percik menyelenggarakan serangkaian kegiatan seminar/ training/ work shop sebagai berikut :

(a) Seminar tentang Ancangan dalam Penelitian Budaya (April 2000)
Pada April 2000 P2PL-Percik telah melakukan seminar tentang ancangan dalam penelitian budaya. Seminar ini bertujuan (1) membentuk sikap peneliti (seperti terbuka, cermat, kritis,kerja keras, dsb), dan (2) menguasai ketrampilan penelitian. Seminar ini terutama membahas tentang ancangan grounded research. Seminar ini penting dilakukan untuk membekali sikap peneliti ketika melakukan penelitian sosial budaya. Kegiatan ini menghasilkan sebuah publikasi (Nico L. Kana, Penelitian Sosial Budaya, 2000).

(b) Seminar tentang Pengalaman Lapangan, Alternatif Analisis, dan Pelaporan (Maret 2001)
Dalam upaya pengembangan peneliti muda, pada tanggal 21 Maret 2001 P2PL Percik menyelenggarakan seminar yang dimaksudkan untuk membagikan pengalaman penelitian yang telah diperoleh penelti selama melakukan penelitian Dinamika Politik Lokal di beberapa desa di Kecamatan Suruh serta penyajian alternatif pengelolaan analisis dan pelaporan hasil penelitian. Dari pemaparan pengalaman penelitian dan alternatif pengelolaan analisis ini, diperoleh tanggapan atau masukan dari peneliti senior dan peserta seminar yang dipandang mempunyai cukup pengalaman dalam melakukan penelitian. Semua masukan dan tanggapan dimaksudkan sebagai upaya pengembangan peneliti muda tersebut. Seminar ini menghasilkan satu publikasi (P2PL, Pengalaman di Lapangan, Alternatif Analisis, dan Pelaporan, Percik, 2001).

(c) Workshop Pembuatan Disain Penelitian (Januari 2004)
Pada Januari 2004 Tim P2PL Percik melakukan workshop dalam rangka pembuatan disain untuk penelitian-penelitian selama tahun 2004-2005. Workshop ini menghasilkan delapan disain penelitian (lima penelitian Pemilu 2004 dan tiga penelitian lainnya) tentang tiga aspek utama, yaitu keputusan operasional, keputusan prinsipil, dan keputusan organisatoris.

(d) Pelatihan Penelitian bagi peneliti pemula (2003 dan 2005)
Penyelenggaraan pelatihan penelitian bagi peneliti pemula adalah bagian dari kegiatan pembentukan basis pemerhati dinamika politik lokal. Lewat kegiatan pelatihan penelitian ini diharapkan muncul pengembangan minat dan kemampuan penelitian baik secara individual maupun kelembagaan serta pengembangan telaah tentang kearifan lokal dalam dinamika politik setempat melalui penyelenggaraan penelitian tentangnya. Selain itu hasil dari kegiatan pelatihan penelitian dapat menjadi salah satu acuan pemberdayaan masyarakat setempat dalam mendukung proses perubahan politik lokal.

Selama kurun 1999 - 2005 telah
diselenggarakan pelatihan bagi
peneliti pemula yang berasal dari
kabupaten-kabupaten di luar
Jawa (Kabupaten Sumba Timur,
Kabupaten Minahasa, Kabupaten
Pontianak, Kabupaten Lombok Barat,
Kabupaten Kendari, Kabupaten
Mamasa dan Banjarmasin).

Pilihan terhadap asal para peneliti pemula ini untuk memberi perhatian kepada realitas dan perkembangan di luar Jawa yang akhir-akhir ini sedang tumbuh dan berkembang kesadaran dan tuntutan revitalisasi identitas lokal, sementara di wilayah asal peneliti belum ada lembaga pelatihan penelitian. 

Berdasarkan tercapainya hasil positif dari pengembangan kemampuan meneliti para peneliti, maka kegiatan pelatihan penelitian bagi peneliti pemula perlu terus diselenggarakan. Kegiatan pelatihan penelitian ke depan (2006 - 2010) selain diselenggarakan untuk para peneliti pemula dari luar Jawa juga untuk para peneliti pemula yang berasal dari kabupaten / kota di Jawa.

(e) Training Post Colonial Methodology ( Februari 2004)
Dalam studi gejala sosial budaya di Indonesia cenderung dititikberatkan penjelasan-penjelasan politik dan peran penting yang dimainkan oleh orang besar. Kekuasaan dan negara mendominasi sehingga meniadakan peranan subyek sejarah lain ( yang berasal dari komunitas yang powerless, marginal atau subaltern). Peneliti sebagai artikulator perlu menimbang suara-suara kaum pinggiran dalam rangka menghadirkan studi yang makin berimbang. Oleh karena itu P2PL Percik pada tanggal 5-7 Pebruari 2004 menyelenggarakan training metodologi penelitian postkolonial. Diharapkan melalui training tersebut, peneliti dapat menggunakan juga metodologi penelitian postkolonial dalam kegiatan penelitiannya.

Sebagai kelanjutan dari training di atas, pada tanggal 6 – 7 Januari 2007 Lembaga Percik menyelenggarakan kembali training postkolonial metodologi. Kalau pada training sebelumnya perspektif poskolonial lebih menekankan sebagai suatu cara dalam pendekatan penelitian yang berbasis kelimuan, maka pada training lanjutan ini memberi tekanan terhadap dimensi aksi sosial.

Kembali ke awal  

  
Pemutakhiran Terakhir ( Wednesday, 17 October 2007 )
 
.

Publikasi

Polling

Darimana anda mengetahui tentang Percik ?
 
© 2017 kampoeng percik
Joomla! est un logiciel libre distribué sous licence GNU/GPL.