Thursday, 24 August 2017
   

Statistik

Anggota: 33088
Berita: 128
Pranala: 3
Pengunjung: 4316020
.
Pradjarta Menapaki Lereng Licin PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Maria Hartiningsih   
Saturday, 13 October 2007

 

Ketika kemarau lewat, yang ditanam bukan padi genjah yang memberi hasil tiap 2,5 sampai tiga bulan, tetapi pari jero, padi lokal yang baru empat-lima bulan bisa dipanen. Itu metafora Pradjarta (62), Kepala Kampoeng Percik di Desa Turusan, Salatiga, Jawa Tengah.

Suara tokek bersahutan ketika kami berbincang beberapa waktu lalu, di beranda kantornya, salah satu dari delapan rumah desa di Kampoeng Percik. Dari bawah terdengar gemercik air anak sungai yang diselimuti rerimbunan perdu dan semak.

Tak mudah memisahkan Pradjarta dari Percik. Lembaga penelitian Persemaian Cinta Kemanusiaan itu dibangun para pendirinya dari puing-puing kebersamaan setelah Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) dicerai beraikan oleh isu komunis. Ontran-ontran itu terjadi tahun 1992-1994.

 Pradjarta yang baru pulang studi dari Belanda awalnya ingin bersikap netral, tetapi akhirnya bergabung dengan teman-temannya di Kelompok Pro Demokrasi (KPD). Salah satu tokohnya adalah Arief Budiman.

Percik dikategorikan ke dalam Organisasi Tanpa Bentuk (OTB) pada masa Orde Baru. "Dosa" Percik, kata Pradjarta, mengutip alasan Pangdam Diponegoro Suyono, adalah menyelenggarakan seminar Kong Hu Cu.

"Kami mengadvokasi pasangan yang tak bisa menikah karena keyakinannya tak diakui," kenang Pradjarta.

Kegiatan itu merupakan agenda kelompok Nur Kebajikan yang didirikan Gus Dur untuk mengadvokasi pengakuan terhadap agama-agama di luar lima agama yang diakui negara.

Membangun dari puing

Masa-masa itu sangat sulit bagi Pradjarta dan kawan-kawan. "Kemarau panjang tiga-empat tahun," kenangnya. "Waktu keluar dari UKSW, kami kehilangan segalanya. Semuanya berhenti, termasuk gaji. Juga krisis identitas."

Padahal, Lembaga Penelitian Ilmu-ilmu Sosial (LPIS) UKSW tempat ia dan kawan-kawannya bertumbuh, menghasilkan laporan-laporan kritis, bahkan berani mendiskusikan secara terbuka isu proletarisasi sebagai dampak produksi bibit unggul.

Di lembaga itulah kader-kader UKSW dilahirkan dan dimatangkan. Ironisnya, yang kemudian berhadapan dengan Pradjarta dan kawan-kawan adalah kawan-kawannya juga, yang dibesarkan bersama-sama.

Setelah perpecahan itu, pekerjaan tak mudah didapatkan karena selalu dikaitkan dengan "tindakan makar" di UKSW. Mereka yang "terusir", para dosen, peneliti, dan aktivis bantuan hukum, kemudian berusaha bangkit, membangun wadah untuk berjuang bersama.

Pada masa-masa yang paling sulit, Made Samiana, yang pernah menjadi Pembantu Rektor UKSW, sekarang orang kedua di Kampoeng Percik, harus berjualan beras dari pintu ke pintu. Setyo Handoyo, salah satu peneliti, harus beternak hamster untuk bertahan hidup sebelum bekerja di pabrik di luar kota.

Momen ketika Samiana menelepon Setyo Handoyo untuk kembali karena ada lembaga yang mendanai penelitian mereka, dikenang sebagai salah satu bagian yang mengharukan dari sejarah Percik.

"Kami memiliki tradisi panjang dengan penelitian," kata Pradjarta. Ketika menggagas Percik, ia sudah memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun.

Bagi Philip Quarles dari Departemen Antropologi Universitas Vrije, Amsterdam, Belanda, Percik dapat dilihat sebagai proses panjang dari "investasi" almarhum Notohamidjojo, Rektor UKSW pertama.

"Saya sebenarnya tak setuju pada banyak pemikiran Pak Noto. Pemikirannya tentang creative minority yang populer itu menurut saya sangat eksklusif dan inferior, karena maunya membangun benteng," tegas Pradjarta.

Menolak ketakutan

Pandangan Pradjarta tentang berbagai hal menyangkut hubungan antarmanusia banyak dilandasi pengalaman personalnya. Ia mengaku tumbuh dengan segala ketakutan dan rasa tak aman, karena dibesarkan di lingkungan tertutup.

"Waktu kecil saya penakut," ia mengenang.

Ayah Pradjarta seorang guru. Ibunya perawat. Masa kecilnya dihabiskan di Wates, Kulon Progo, Yogyakarta. Rumahnya terletak di belakang rumah sakit. "Depan rumah ada kamar mayat. Tiap malam bunyi. Jadi sejak kecil saya sudah diganggu oleh cerita-cerita tentang kamar mayat, diganggu suara-suara aneh, mati tak wajar."

Mungkin pengalaman itu yang membuatnya tak takut pada kematian. Pilihan lokasi Kampoeng Percik yang diapit dua pemakaman barangkali juga dipengaruhi oleh itu.

Namun waktu itu, ia merasa berada di dua dunia. "Dunia kekristenan model Barat yang hendak dipurifikasi, tetapi saya juga dipengaruhi pengalaman sehari-hari," lanjutnya.

Ketika kos di Yogyakarta, ia dihadapkan peristiwa serupa. "Tempat yang saya tiduri katanya pernah jadi tempat pembunuhan. Malam saya tak bisa tidur. Tetapi setelah itu rasa takut saya hilang. Jadi secara psikologi saya didorong bermusafir, mencari hakikat hidup untuk menjawab pertanyaan mengapa kita tak dapat lari dari ketakutan."

Dari situ perjalanannya dimulai. Suatu ketika ia melakukan penelitian di desa Kajen, Tayu, Jawa Tengah, desa kecil dengan 18 pesantren dan puluhan kiai, di mana Kiai Sahal Mahfudz berada. Pradjarta memilih Kajen karena di tempat itu pernah terjadi kekerasan terhadap kelompok Kristen.

Karena dibelenggu ketakutan oleh bayangan prasangka, pada malam pertama ia tidak bisa tidur. Padahal ia harus tinggal enam bulan di situ.

"Saya mengawali disertasi saya yang diterbitkan LKiS (Lembaga Kajian Islam dan Sosial, didirikan generasi muda Nahdlatul Ulama) dengan deskripsi mengenai yang saya lihat pada pukul 03.30. Waktu itu santri yang duduk di pojok bilang, ’sampun jam setengah sekawan Pak Kiai..’, terus-terusan sampai Kiai Sahal terbangun. Saya sangat terkesan."

Penelitian itu memberinya pengalaman tentang bagaimana hubungan-hubungan antarmanusia seharusnya dilakukan. "Dengan meninggalkan prasangka, kita bisa memulai dengan sesuatu yang baru, keluar dari kungkungan yang menyesakkan."

Ketika menyelesaikan penelitiannya di Kwaringan, Jombang, seorang respondennya, Pak To’at, pemimpin suatu tarekat, minta izin mendoakannya. Pradjarta diminta keikhlasannya.

Pengalaman-pengalaman itu memberinya pelajaran, bahwa "yang lain", yang ditakuti itu harus dikenal dan kemudian dihadapi dengan pengalaman personal. Meski demikian, ia tetap harus melewati situasi-situasi sulit.

Ketika studi tentang perdukunan, ia ditantang sang dukun untuk "masuk" dengan menjadi dukun. "Waktu itu saya tak berani. Masih berpikir itu dosa. Kalau sekarang, saya mau saja," ujarnya.

Otentisitas

Pikiran-pikiran dasar tentang Percik banyak dipengaruhi pengalaman Pradjarta di pesantren desa. "Tetapi kita juga dihadapkan berbagai perubahan. Maka kami mulai berpikir tentang otentisitas," ujarnya.

"Otentisitas adalah identitas yang ditemukan dari perjalanan kita sendiri, dari sejarah kita. Dengan mengembangkan otentisitas, kami tak dibingungkan oleh perubahan, tetapi juga belajar dari situ."

Ketika mengembangkan Sobat, Kajian Lintas Iman, mereka belajar dari sumbangan sejarah lokal terhadap hubungan antaragama. Hubungan itu sudah sangat lama. Memang ada konflik, tetapi juga dari konflik orang belajar bekerja sama.

Itulah basis hidup bersama yang kuat. "Kenapa harus memakai cara baru, sementara hal-hal kecil bisa ditempatkan di situ. Pengalaman kami sangat empirik. Banyak teman yang tidak terdidik dalam tradisi ilmu tertentu, berkembang karena mengenal realita."

Melalui Kampoeng Percik, Pradjarta dan teman-temannya mengidealkan sebuah lokalitas yang menghargai keberagaman dan kehidupan. Namun, ia juga menghadapi tantangan, yang ia sebut sebagai "lereng-lereng licin".

"Kami membanggakan spiritualitas yang muncul dari sejarah. Tapi sejauh mana sejarah memberi fondasi yang kuat untuk maju, atau malah mengungkung perkembangan Percik ke depan."

Lereng licin kedua adalah regenerasi. "Berikutnya adalah keberanian bermimpi. Di sini ada paradoks, karena semakin mapan semakin takut bermimpi," lanjutnya.

Lereng licin berikutnya adalah harapan hidup kelembagaan jangka panjang. Dan lereng licin terakhir adalah kearifan lokal versus kebenaran global dan kebenaran universal. Tetapi kearifan lokal di situ dimaksudkan untuk menjamin representasi demokratik.

 

Pemutakhiran Terakhir ( Friday, 14 March 2008 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
.

Publikasi

Polling

Darimana anda mengetahui tentang Percik ?
 
© 2017 kampoeng percik
Joomla! est un logiciel libre distribué sous licence GNU/GPL.