Thursday, 19 October 2017
   

Statistik

Anggota: 33098
Berita: 128
Pranala: 3
Pengunjung: 4339032
.
Live In Remaja Lintas Iman PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Ambar Istiyani   
Monday, 06 April 2015

Menyerap Keindahan Seni, Mempererat Persahabatan

Cerita Live in Remaja Lintas Iman di Kampung Sitiung, Wonosobo

 

 

  Lewat tengah malam, alunan gending dan suara merdu sinden memecah kesunyian. Gemulai gerakan penari lengger seolah menghipnotis pandangan mata. Secara bergantian, penonton lelaki turut menari hingga terhanyut dalam irama gerak tariannya yang eksotik. Selang beberapa saat, beberapa diantara mereka pun ada yang kesurupan.

Pagelaran keseniaan lengger malam itu digelar di Kampung Sitiung, sebuah kampung yang tak jauh dari alun-alun Kabupaten Wonosobo. Sitiung merupakan satu rukun tetangga (RT) terbesar di Kabupaten Wonosobo dengan lebih dari 80 kepala keluarga. Dari segi geografis, penduduk Sitiung sendiri mengakui bahwa kampung ini ‘tak layak’ huni karena tingkat kemiringan yang cukup curam, sehingga bencana longsor bisa terjadi kapan saja. 

Menyadari adanya resiko bencana, penduduk Sitiung merasa bahwa mereka harus tetap guyub. Bahkan ketika hendak dipecah menjadi beberapa RT oleh pihak kecamatan, penduduk Sitiung menolaknya. Kebersamaan itu dirasa sangat bermanfaat ketika ada masalah terjadi, tidak ada ego kewilayahan diantara mereka sehingga seluruh penduduk lebih cepat tanggap mengatasinya, salah satunya bencana longsor.   

Malam itu, tua dan muda, laki-laki dan perempuan, setia menonton rangkaian pagelaran kesenian di Sitiung. Sebelum kesenian lengger menjadi pamungkas pagelaran itu, para penonton menikmati kesenian lainnya seperti teater, band remaja, dan seni kethoprak bertajuk Rukun Agawe Santosa (kerukunan menjadikan ketenteraman). 

Pagelaran kesenian ini dilakukan dalam malam keakraban yang merupakan rangkaian acara live in di Kampung Sitiung oleh para remaja lintas iman dari berbagai daerah di Jawa Tengah yakni Semarang, Temanggung, Salatiga, Purworejo, dan Wonosobo, pada tanggal 21-22 Maret 2015. Rangkaian kegiatan diisi dengan sarasehan, pagelaran keseniaan, kerja bakti, dan out bond. 

Live in yang bertujuan untuk mempererat persobatan para remaja lintas iman dan daerah ini diselenggarakan atas kerja bersama masyarakat Sitiung, Lembaga KITA Wonosobo, PMII Wonosobo, Forum Lintas Iman Sobat Muda, dan Percik Salatiga. 

Seni Budaya Untuk Mempererat Persaudaraan Lintas Iman

Barangkali dapat dikatakan bahwa antara 10-15 tahun yang lalu, Wonosobo adalah daerah sumbu pendek yang kadangkala diwarnai percikan konflik dan kekerasan, sebut saja konflik pada tahun 80-an yang disebabkan oleh sentimen terhadap etnis China. Namun demikian, Haqqi El Enshari, aktivis lintas iman Wonosobo sebagai salah satu pembicara sarasehan, menyebutkan bahwa konflik yang terjadi di Wonosobo tidak ada yang memuat warna agama. 

 

Masyarakat Wonosobo dapat hidup bersama berdampingan dalam perbedaan. Haqqi memberikan contoh, adanya sekitar 6000 jemaat Ahmadiyah yang ada di daerah Watu Malang. Sementara jemaat Ahmadiyah di beberapa daerah lain di Indonesia diserang, di Wonosobo mereka tetap bisa hidup bersama selayaknya umat lainnya. Contoh lain adalah eksistensi komunitas Islam Aboge (Alip-Rebo-Wage) yang berbeda dengan Islam mainstream karena memiliki sistem kalender sendiri. 

“Kebersamaan itu semua antara lain bisa terjadi karena pendekatan seni dan budaya” tutur Haqqi. Di Giyanti, Selomerto, Wonosobo misalnya, masyarakatnya cukup beragam dari sisi agama yakni Islam, Kristen, Katholik, dan Pangestu, ttetapi mereka bisa bahu-membahu, terutama ketikaNyadran, Sura, “mereka disatukan oleh ‘agama seni’ yang guyub” lanjutnya. 

 

Selain nguri-nguri apa yang kita miliki, seni dan budaya juga bisa mempererat persaudaraan. Hal itu disampaikan oleh pembicara yang lain, Ki Aryo Aldalaka seorang pendeta dari GKJ Pituruh-Purworejo, yang berbagi pengalamannya berkiprah dalam kesenian Kentrung Lintas Asih Wiromo di Purworejo. Mereka yang terlibat dalam keseniaan musik ini tidak hanya lintas agama, tetapi juga lintas denominasi. Musik mampu menyentuh rasa kemanusiaan, sehingga ketika ada bencana atau masalah di Purworejo, mereka selalu berupaya mencari solusi bersama. 

 

Seni adalah keindahan dan bersifat universal. Agus Purwantoro, pegiat seni Wonosobo yang menjadi moderator sarasehan pun lalu mengutip satu ayat Al-Quran “Allah itu Indah dan Allah Mencintai Keindahan.” 

Dukungan dari Pesanggrahan Selomanik

 

Cita untuk terus membumikan Wonosobo Ramah Hak Asasi Manusia tampaknya bukan hal yang mustahil. Cerita-cerita praktek baik tentang bangunan perdamaian di tanah antara Gunung Sindoro dan Sumbing ini telah menunjukkan optimismenya. 

Empat hari sebelum live in di Sitiung, panitia menyambangi kediaman Kholiq Arief, Bupati Wonosobo di Pesanggrahan Selomanik untuk sekedar ‘kulanuwun’ mengadakan kegiatan di Wonosobo. Orang nomor satu di Wonosobo ini berpendapat bahwa kampanye perdamaian memang perlu terus diupayakan. Pada awal bulan Mei nanti saja ia akan mengadakan karnaval tematik dan kali ini ia ingin langsung mengambil tajuk Anti Kekerasan Atas Nama Agama. 

Kholiq berpendapat bahwa tema seperti ini secara terbuka harus dipakai, sementara orang lain masih menganggapnya sebagai hal yang sensitif dan tabu. Untuk itulah dengan sangat tegas ia mendukung dan memotivasi live in bagi remaja lintas iman di Sitiung. Pemilihan Kampung Sitiung dirasa bijak mengingat masyarakatnya yang telah lama melestarikan seni dan budaya Jawa, antara lain melalui kesenian kethoprak dan lengger. Peserta live in dapat belajar banyak dari kearifan masyarakat Jawa di Sitiung, sekaligus mendalami bagaimana konteks geografis dan kesenian mampu membawa masyarakat Sitiung dalam kebersamaan. 

Dalam refleksi di akhir kegiatan, salah satu peserta dari Semarang menyampaikan bahwa“Wonosobo rupanya tidak hanya indah alamnya, tetapi juga kerukunannya. Hubungan habluminallah dan habluminannas (hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia lainnya) bisa selaras.” (Amb) 

 

    
Pemutakhiran Terakhir ( Monday, 06 April 2015 )
 
Berikutnya >
.

Publikasi

Polling

Darimana anda mengetahui tentang Percik ?
 
© 2017 kampoeng percik
Joomla! est un logiciel libre distribué sous licence GNU/GPL.