Thursday, 29 June 2017
   

Statistik

Anggota: 33086
Berita: 128
Pranala: 3
Pengunjung: 4293985
Saat ini ada 3 tamu online
.
Film Sobat Muda PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Hana Krisviana   
Friday, 14 September 2012

 34 Suara Remaja untuk Perubahan

Oleh : Hana Krisviana

Sepiring ayam goreng diletakkan di atas meja bersama dengan semangkuk sayur asem, semangkuk tempe dimasak bacem, serta sebakul nasi dan tak lupa sesisir pisang yang ranum. Sederhana, tapi terlihat menggiurkan—seakan meledek ketiga pemuda yang duduk mengelilingi meja tersebut dengan tatapan lapar dan piring yang masih bersih. Duduk dengan kemeja rapi, ketiganya sedang menunggu kehadiran sang bapak kos yang semula mengundang mereka untuk makan bersama.

Salah seorang dari mereka beberapa kali mencondongkan badan ke depan, seakan hendak meraih sepotong ayam yang sedari tadi dia pandangi. Namun sepersejuta detik kemudian, urung dan menggeleng-gelengkan kepala. Diliriknya teman yang duduk di samping dan seberangnya. Sama, piring keduanya juga masih kosong. Jangankan memindahkan salah satu hidangan tersebut ke perut mereka, memindahkan ke atas piring mereka saja, ketiganya tidak ada yang berani.

Semua sibuk dengan pikiran sendiri-sendiri, yang ternyata sama-sama sedang mengulang wejangan ‘mahabijak’ dari orangtua mereka di daerah asal masing-masing.

“Jangan makan dahulu sebelum dipersilahkan, “ kata ibu dari pemuda yang berdarah Ambon dengan bahasa setempat. “Orang Jawa itu kalau makan sopaann sekali.”

“Jangan makan sambil mengecap-ecap,” pesan ibu dari pemuda yang berasal dari suku Betawi. “Orang Jawa tidak suka itu.”

“Jangan makan dengan piring diangkat seperti di rumah,” bapak dari pemuda berdarah Manado mewanti-wanti dalam bahasa setempat.

“Pakai baju yang rapi.”

“Jangan ambil makan banyak-banyak.”

“Kehormatan keluarga ada di tanganmu.”

Wejangan tersebut terus terngiang di bdi benak mereka hingga alih-alih mengambil makanan, mereka hanya menatap lapar sambil melatih diri agar jangan sampai melakukan sesuatu yang membuat malu keluarga mereka di kampung. Bapak kos mereka yang memang orang Jawa digambarkan dengan begitu santun oleh orangtua masing-masing, dengan karakteristik yang mampu membuat masing-masing dari mereka gentar terlebih dahulu.

Namun segala karakteristik yang begitu diagungkan oleh orangtua mereka masing-masing tersebut runtuh bersama dengan kedatangan sang bapak kos. Keluar dari kamar hanya dengan singlet dan sarung, dia langsung menawari mereka makan sambil memberi contoh secara langsung. “Tidak perlu sungkan,” begitu katanya sembari mengumpulkan lauk-pauk di atas nasinya yang menggunung di piring, langsung dengan tangan. Sekali lagi dia mempersilahkan ketiganya untuk segera mengambil makanan, sebelum dia sendiri makan dengan lahap dan berisik. Lagi-lagi, tentu saja, langsung dengan tangan.

Ketiga pemuda tadi sudah tidak lagi menatap makanan dengan lapar. Sekarang mereka ganti menatap bapak kos mereka dengan heran, dan rasa-rasanya... Sedikit terkejut.

Adegan di atas tentu saja bukan berasal dari pengalaman atau kisah siapa-siapa. Cerita pergesekan budaya yang ditampilkan, berasal dari video pendek berjudul “Cuma Makan” yang diputar di aula SMA Negeri 1 Salatiga pada tanggal 12 Agustus lalu, bertepatan dengan Hari Remaja Internasional. Sebanyak kurang lebih seratus dua puluh remaja dari berbagai sekolah, universitas, dan komunitas di Salatiga ikut terhanyut dalam suasana segar yang dihadirkan dalam salah satu video yang diputar di acara Bioskop Remaja ini. Tidak ada batasan suku, agama, dan berbagai perbedaan lain yang membatasi mereka untuk menikmati kegiatan hasil kerjasama antara LSM Percik, Komunitas Film Salatiga, serta Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah tersebut. Tawa, seperti juga kesenangan dalam menonton film, nyatanya memang universal.

Dilaksanakan sejak jam dua siang dan diteruskan dengan acara buka puasa bersama, pemutaran Bioskop Remaja ini sejatinya merupakan kegiatan pendukung dari acara Jalan Remaja 1208, sebuah program refleksi tahunan yang diselenggarakan oleh Yayasan Kampung Halaman Yogyakarta dalam rangka memperingati Hari Remaja Internasional. Sejak tahun 2006, setiap tahun Yayasan Kampung Halaman telah mendorong para remaja di berbagai daerah di Indonesia untuk berani menyuarakan isu-isu di sekitarnya dalam bentuk media. Kepedulian terhadap komunitas, negeri, serta rasa cinta tanah air dan penghargaan pada perbedaan adalah nilai-nilai yang ingin ditanamkan dan dimunculkan dalam diri generasi penerus ini.

Lewat format video diary, dari 34 video yang dihasilkan oleh 177 orang remaja dari 28 komunitas di Indonesia ini nantinya akan dipilih 10 yang dirasa paling menginspirasi. Kesepuluh video itulah yang diputarkan di aula SMA Negeri 1 Salatiga ini, agar remaja-remaja Salatiga bisa ikut merefleksikan isu yang tidak hanya berasal dari komunitas setempat, namun juga dari seluruh Indonesia. Termasuk diantaranya tiga video hasil kerjasama antara SOBAT Muda, forum lintas agama anak muda besutan LSM Percik, Komunitas Film Salatiga, serta Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah yang berjudul “Cuma Makan”, “Dusunku Pancasila”, serta “Permainanku Budayaku”.

Di tengah-tengah serbuan konflik antar agama, antar suku yang sampai kini masih terjadi di negeri ini, rasanya menyenangkan melihat remaja dari berbagai komunitas yang berbeda berbaur menjadi satu untuk menonton dan merefleksikan isu-isu yang akrab, namun sering luput dari perhatian. Bersama, mereka terlihat hening saat menyaksikan video yang mengisahkan tentang konflik Ambon tahun 2011 lalu yang masih menorehkan luka pada remaja setempat, tertawa saat menyaksikan kelucuan dalam video yang menampilkan kelucuan dari pergesekan budaya, dan menonton dengan kening berkerut saat menonton video dari komunitas pemuda Arso, Papua, tentang pemisahan kelas akademik di sekolah setempat yang sekilas mengingatkan seperti politik apartheid di Afrika Selatan. Nilai kesatuan dan kepedulian terhadap negeri kentara sekali dalam kegiatan ini. Sesuatu yang jaman sekarang jarang ditemukan pada remaja Indonesia, dan pelan-pelan tergeser oleh arus globalisasi, rasa kurang memiliki terhadap negeri, dan kurangnya toleransi antar perbedaan.

John Lennon pernah mengidamkan keadaan dimana tidak adanya agama, tidak adanya negara, supaya masing-masing orang bisa hidup damai tanpa saling membunuh atau terpecah belah. Namun ternyata tidak selamanya harus begitu. Pada kenyataannya, kegiatan Jalan Remaja 1208 tahun ini mampu memberikan sekaligus mengajarkan alternatif lain; untuk hidup berdampingan sebagai satu kesatuan dalam perbedaan, untuk tetap mencintai negeri dan bukan egoisme kelompok, dan tetap hidup dalam damai.

Ketiga puluh empat video yang tergabung dalam kompilasi video Jalan Remaja 1208 ini merupakan suara dari 177 orang remaja Indonesia yang mengidamkan dan menyerukan perubahan. Perubahan untuk lebih menghargai perbedaan, perubahan untuk lebih peduli terhadap negeri dan budaya sendiri, perubahan untuk lebih peduli terhadap sesama, dan berbagai perubahan lainnya. Sebab remaja itu sendiri adalah agen perubahan, begitu pesan yang ingin dikumandangkan oleh Yayasan Kampung Halaman dan diteruskan oleh komunitas-komunitas di seluruh Indonesia ke remaja-remajanya. Ibarat langkah kaki yang pelan namun pasti, pembuatan dan pemutaran video pendek mungkin tidak terdengar sebombastis demonstrasi yang dilakukan di depan Istana Negara, namun niscaya, pelan tapi pasti suatu saat langkah kaki itu pasti akan sampai pada tujuannya; perubahan.
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
.

Publikasi

Polling

Darimana anda mengetahui tentang Percik ?
 
© 2017 kampoeng percik
Joomla! est un logiciel libre distribué sous licence GNU/GPL.