Thursday, 19 October 2017
   

Statistic

Members: 33098
News: 128
Web Links: 3
Visitors: 4339082
.
Refleksi SOBAT PDF Print E-mail
Written by Pudjo Priatma   
Friday, 15 October 2010
There are no translations available

SENANTIASA MEMBANGUN KEHIDUPAN YANG RUKUN DAN RAMAH ANTAR UMAT BERAGAMA

 

1.      Pengantar

            Sejak beberapa minggu terakhir, khususnya setelah terjadi peristiwa memprihatinkan di Bekasi, yaitu penganiayaan terhadap pemimpin gereja HKBP, terlebih pembakaran masjid dan rumah penduduk kaum Ahmadiyah di Cisalada, Bogor, semakin santer dipecakapkan, melalui media massa cetak maupun elektronik,  juga kontak pribadi: e-mail, facebook, twitter, dll bahwa sejak dilahirkan (dibentuk) bangsa Indonesia ini terdiri atas berbagai macam ras, suku, agama, budaya, dsb. Kemajemukan ini di satu pihak merupakan rahmat dan berkat Tuhan, tetapi di lain pihak merupakan potensi terjadinya konflik. Oleh sebab itu, syukur atas rahmat dan berkat Allah itu layak disertai dengan kerja keras untuk menjaga agar tidak terjadi konflik dan atau mengatasi konflik dengan menerima, menghargai dan memperhatikan kenyataan kemajemukan itu.

Sebuah kata yang sering disebut dalam percakapan mengenai pentingnya menghindari konflik adalah toleransi. Terhadap kata toleransi ini berbagai pemaknaan pun diterapkan. Sebagai contoh, ada yang memaknai toleransi sebagai menenggang rasa (membebaskan), tidak mengganggu tetapi juga tidak mencampuri urusan pihak lain. Akan tetapi, ada bahkan makin banyak yang memaknai toleransi itu bukan sekedar “membiarkan” orang lain hidup dan beraktifitas, melainkan ada hubungan yang hangat, saling menyapa, saling berbagi dan bahkan saling membantu. Pemaknaan toleransi yang demikian itu yang saya sebutkan dengan kehidupan rukun-ramah. Orang yang bertetangga: dalam satu rt, rw, kalurahan atau desa, kecamatan hingga Indonesia, demikian juga dalam satu kantor, satu perjalanan (bisa, kereta api, pesawat, dll) bukan hanya rukun yang berarti tidak ada ketegangan hubungan apalagi konflik tetapi juga ramah. Mereka saling menyapa, saling berbagi, bahkan saling membantu dan mendukung.

 

1.      SOBAT: Sebuah bukti

SOBAT adalah contoh konkret (nyata) bahwa kehidupan rukun-ramah itu benar-benar dapat diwujudkan. SOBAT itu dilahirkan (didirikan) dengan cara para pendeta dan kyai diundang untuk berkumpul, dan setelah berkumpul mereka dibiarkan agar mereka bertemu. Pengumpulan para kyai dan pendeta itu memang sebuah rekayasa yaitu agar mereka berkumpul, tetapi pertemuan mereka sedemikian alami, tanpa rekayasa. Ketika mereka mulai berkumpul, para kyai dan pendeta membentuk kelompok sendiri-sendiri. Pengelompokan demkian itu wajar saja, sebab mereka memang hanya mengenal teman sendiri (kyai dengan kyai, pendeta dengan pendeta). Akan tetapi,  sebagaiman terungkap dalam buku “Menghilangkan Sakit Hati Antar Umat”, dengan jujur juga diakui ada prasangka-prasangka buruk (prejudice) antar mereka. Setelah beberapa saat, ternyata mereka berbaur dengan sendirinya dan dari percakapan yang terjadi sedikit demi sedikit terjadi perlelehan suasana bahkan setelah perjumpaan itu selanjutnya terbentuk SOBAT.

Salah satu hal yang menarik dari pelahiran (pembentukan) SOBAT adalah keberanian mengakui bahwa memang ada rasa sakit hati, ada prasangka buruk satu terhadap yang lain. Meskipun sebagai tokoh agama, yang juga sering dianggap sebagai panutan (yang layak diteladani), tetapi para kyai dan pendeta itu mengakui bahwa di dalam hati terdapat bahkan tersimpan gambaran buram (kalau bukan hitam kelam, tegasnya jelek) tentang orang lain. Justru dengan mengakui adanya titik bahkan gumpalan hitam di hati maka mereka kemudian mampu menghapus titik bahkan gumpalan hitam itu. Yaitu dengan jalan bertemu dan bercakap secara terbuka satu terhadap yang lain. Dari perjumpaan dan percakapan itu maka mereka menyadari bahwa gambaran buram (bahkan hitam) itu palsu. Gambaran itu bukan yang senyatanya. Terelebih setelah bertemu berulang kali dan bercakap panjang lebar, mereka dapat membuang gambar buram bahkan hitam itu, dan menggantinya dengan gambar putih. Mereka pun berkawan bahkan bersaudara.

Dari pengalaman itu, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa yang dibutuhkan untuk membangun kehidupan yang rukun-ramah itu adalah kesediaan untuk berjumpa sebagai sama-sama manusia. Inilah syarat utama bahkan syarat satu-satunya agar orang yang berbeda agama dapat membangun kehidupan rukun-ramah. Kesimpulan ini mendapat penegasannya dari pernyataan salah satu tokoh kunci kelahiran (pembentukan) Sobat, yaitu Bp. K.H. Mahfudz Ridwan, dalam tanggapannya terhadap Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri nomor 9 dan 8 tahun 2006, bahwa yang dibutuhkan bukan peraturan bersama, melainkan tersedianya fasilitas (wadah) agar terjadi kerukunan antar umat itu sendiri. Memang, sebagaimana pengalaman di SOBAT sebenarnya umat dari berbagai macam agama itu menginginkan hidup bersama yang rukun-ramah, dan sejatinya mereka mampu melakukan hal itu. Oleh sebab itu, apabila ada fasilitas yang memungkinkan orang untuk bertemu dan bercakap secara bebas, jujur, dan rendah hati maka kerukun-ramahan akan semakin terwujud. Bahkan lebih dari itu, pertemanan hingga persaudaraan pun akan tumbuh dan berkembang. Sikap KH Mahfudz itu (tentu) didasarkan pada pengalamannya sendiri, yang bergaul secara luas dengan siapa pun, dan dengan pergaulannya itu maka pertautan dengan orang lain, bahkan pertemanan hingga persaudaraan dengan orang beragama lain dapat dibangun dan ditumbuh-kembangkan.

Hingga kini SOBAT terlah berjalan selama 8 tahun. Tidak berarti tidak ada masalah di dalam SOBAT. Relasi antar manusia selalu dinamis, tidak pernah statis. Dalam dinamika relasi antar manusia itu, tidak mustahil juga terjadi kesalah-pahaman. Akan tetapi, karena kesediaan untuk bercakap secara bebas, jujur dan rendah hati itu maka kesalah-pahaman itu dapat diatasi bersama.

 

2.      Tantangan dari dalam lingkungan umat beragama itu sendiri dalam membangun kehidupan yang rukun-ramah

2.1.    Dalam perjalanannya SOBAT pernah diperhadapkan dengan persoalan ketegangan hubungan karena perbedaan paham dan praktek hidup. Hal ini terjadi antara lain ketika diselenggarakan pertemuan SOBAT di pesantren Bp. KH Muslich. Pak Kyai mendapat kririk tajam sebab  mengundang “kaum kafir” ke pesantrennya. Akan tetapi, pak Kyai menerima kritik itu dengan hati damainya sehingga tanggapannya pun sangat bijaksana, yaitu mempersilakan pengritik itu menutup acara dengan doa.

Setiap agama itu memang khas atau unik. Setiap agama itu istimewa, tidak sama dengan agama lain. Meskipun  sebenarnya juga ada nilai-nilai luhur yang bersifat universal, yang ada di dalam semua agama. Kalau orang hanya menekankan ke-unik-an agama sendiri maka orang akan memiliki kecenderungan exklusif, tertutup terhadap “dunia” luar dan bahkan menganggap bahwa “dunia” luar itu tidak perlu dan tidak perlu ada (bisa dimusnahkan).

2.2.    Peristiwa itu juga menunjukkan kecenderungan puritanisasi. Kecenderungan untuk menjadi murni dan semakin murni. Meskipun sebenarnya tetap saja ada masalah ukuran kemurnian itu, bahkan mungkinkan ada yang benar-benar murni? Di lingkungan Kristen, misalnya, ada perdebatan yang tidak pernah selesai tentang cara membaptis. Ada yang menganggap dan meyakini bahwa cara membaptis harus diselamkan, tetapi ada pula yang menganggap dan meyakini cara membaptis dapat cara diguyur (dicurahi). Perbedaan paham (anggapan) dan keyakinan ini juga disebabkan oleh kecenderungan puritanisasi, kecenderungan untuk menjalankan praktek keagamaan secara murni. (Sekali lagi) persoalannya adalah ukuran kemurnian, sebab semua itu sejatinya adalah tafsir. Terlebih lagi, apakah benar-benar ada yang murni itu? Haruskah baptis dilakukan dengan cara diselamkan di sungai Yordan? Itukah yang murni?

Arus lain, yang makin lama makin menguat adalah gerakan kontekstualisasi. Yaitu mengupayakan agar agama itu mem-bumi. Agama, yang bagaimana pun berasal dari tempat lain, sehingga sesampai di Indonesia ini pasti dibungkus dengan budaya tertentu, di Indonesia (Jawa) bersemai, tumbuh dan berkembang di masyarakat yang telah memiliki budaya tertentu lain. Perjumpaan itu layak dikelola sedemikian sehingga agama itu terasa sebagai benih yang berasal dari bumi sendiri, atau setidak-tidaknya sebagai pohon yang tertanam di tanah.

Pada pertemuan SOBAT di Gunung Kidul, acara pertemuan itu dikemas berjalin dengan acara tahunan “bersih desa” yang diselenggarakan masyarakat. Acara “bersih desa” memang dikritik sebagai sintretisme, pencampuran ajaran.  Meskipun harus diakui pula bahwa Sunan Kalijaga berhasil meng-Islam-kan Jawa justru dengan cara menjalinkan ajaran dan nilai-nilai Islam ke dalam budaya Jawa. Memperhatikan kritik itu, tetapi juga dalam semangat untuk mem-bumikan agama yang (memang) berasal dari tempat lain, itu, sekarang makin lama makin kuat pula gerakan untuk menemukan dan menumbuh-kembangkan ke-Indonesia-an (bahkan ke-Jawa-an) dari agama itu. Kristen yang Indonesia (bukan Eropa), Islam yang Indonesia (bukan Arab), dst. Setidak-tidaknya di GKJ gerakan ini makin hari makin kuat, demikian juga (setahu saya) di lingkungan NU, dan Muhammadiyah.

 

3.      Tantangan dari luar lingkungan umat beragama itu sendiri dalam membangun kehidupan yang rukun-ramah

3.1.    Di desa, pada umumnya orang dari berbagai macam agama hidup rukun-ramah. Akan tetapi, ketenteraman desa itu terusik ketika ada kepentingan-kepentingan tertentu yang demi tercapainya tujuan dari kepentingan tertentu itu menggunakan agama sebagai alat provokasinya. Sebagai contoh adalah kepentingan politik, yang mengakibatkan keterpecahan umat bahkan perselisihan hingga pertikaian. Syukurlah hal ini makin lama makin menipis, meskipun harus senantiasa diwaspadi sebab kecurigaan terhadap kepentingan politik sebenarnya masih selalu tersimpan.   Semoga umat menjadi makin dewasa sehingga berani menolak dan melawan degan cara nir-kekerasan provokasi yang merusak kebersamaan.

3.2.    Lembaga, atau komunitas independen seperti halnya SOBAT sejatinya merupakan penyeimbang kekuatan Negara. Dengan semakin banyak dan kuatnya lembaga atau komunitas mandiri demikian itu sebenarnya dominasi Negara semakin dapat dikurangi. Dengan jalan demikian juga semakin dapat menyuburkan tumbuh-kembangnya demokrasi. Akan tetapi, selalu saja ada keinginan pemerintah, tetapi juga sebagian masyarakat (warga bangsa) yang menginginkan kontrol Negara (dalam hal ini pemerintah) atas segala aspek kehidupan, termasuk dalam hal beragama. Salah satu contohnya adalah perber menag dan mendagri nomor 9 dan 8, 2006. Keberatan sebagaimana yang dikemukakan oleh berbagai tokoh bangsa, termasuk tokoh kita, yaitu KH Mahfudz Ridwan, sekarang terbukti bahwa perber itu justru menghambat (menghalangi) kerukunan, setidak-tidaknya dirasakan oleh kaum minoritas sebagai hambatan untuk menjalankan agama sehingga mereka mempunyai kesan negatif terhadap umat beragama lain, meskipun sebenarnya yang melakukan tindakan tercela hanya segolongan kecil umat saja.

 

4.      Peluang dari dalam

4.1.    Di semua agama sebenarnya ajaran utama (pusat atau pokoknya) adalah tentang rahmat Allah. Manusia yang semula hidup berdosa, atau berada dalam kuasa kegelapan (jahiliyah), oleh rahmat Allah diselamatkan, diberi petunjuk dan bahkan dibimbing hidup suci, dan di dalam terang ilahi.

Di Kristen, misalnya, ajaran utama itu adalah kasih. Di Islam ajaran utama itu adalah rahmat bagi seluruh alam. Oleh sebab itu, apabila ajaran utama ini yang diberi tekanan warga masyarakat (bangsa) dari berbagai agama benar-benar hidup rukun-ramah. Memang, ektrimitas selalu saja ada, dan ektrimitas itu hanya mengakibatkan ketegangan hubungan bahkan permusuhan.  Adalah tugas kita semua untuk menolak ektrimitas itu, dan memilih kedamaian. Di lingkungan Kristen, misalnya ektrimitas itu tertengarai  dari kecenderungan kritenisasi. Tafisran terhadap amanat agung harus diganti bukan sebagai kristenisasi terselubung (melalui bujukan) atau terang-terangan (menjelek-jelekkan agama lain) melainkan mencintai dengan ketulusan. Sedangkan perpindahan agama haruslah ditempatkan sebagai kebebasan atau hak seseorang. Di lingkungan saudara Muslim saya temukan tafsiran rahmatan lil alamin itu dalam berbagai macam. Ada yang menafsirkan sebagai keharusan orang untuk pindah ke agama Islam (hanya orang Muslim yang mendapat rahmat), tetapi ada pula yang memaknai bahwa Islam itu menjadi rahmat kepada alam, kepada orang Muslim dan juga bukan Muslim (Madina di jaman Nabi Muhammad selalu menjadi contoh untuk pemaknaan ini). 

4.2.    Di Indonesia ini ada banyak tokoh dan semakin banyak saudara yang memilih menampilkan agama sebagai pembawa kedamaian. Para tokoh itu ada yang sudah almarhum, seperti Gus Dur, dan minggu-minggu ini di berbagai tempat diputar film Sang Pembaru (KH Ahmad Dahlan), tetapi juga banyak bahkan makin bermunculan yang sekarang aktif memperjuangkan kehidupan rukun-ramah itu. Memang terbanyak para tokoh itu berasal dari NU dan Muhammadiyah, sebab kedua lembaga ini adalah dua lembaga terbesar dan terkuat di Indonesia, tetapi ada pula yang (mengaku) bukan NU atau Muhammadiyah, misalnya, Cak Nun. Para tokoh ini, di samping merupakan teladan juga menjadi pengobar (pemberi) semangat untuk memperjuangkan kehidupan rukun-ramah. Ada suara keras dan tindakan tak terpuji, tetapi terlalu banyak saudara yang justru menyalurkan rahmat dan membagikan berkat Allah, sehingga kehidupan ini damai-sejahtera.

4.3.    Di samping itu, ada banyak lembaga yang memperjuangkan kehidupan demokrasi yang makin tumbuh dan berkembang. Lembaga-lembaga itu juga memperjuangkan tumbuh-kembangnya kecenderungan inklusif dan pluralis. Terkait dengan sikap inklusif dan pluralis ini, layak untuk mengakui bahwa di setiap agama terdapat kebenaran (dan keselamatan) sehingga perpindahan agama itu adalah sia-sia. Kalau dengan menjalani agama yang dipeluknya orang menemukan Allah, mengalami kebenaran dan keselamatan, mengapa harus  pindah ke agama lain hanya untuk menemukan Allah dan mengalami kebenaran serta keselamatan (yang sama itu). Oleh sebab itu, kehidupan rukun-ramah, dialog, layak ditumbuh-kembangkan, sedangkan membujuk orang berpindah agama adalah sikap dan tindakan “tidak yakin dengan diri sendiri.”

 

5.      Peluang dari luar

5.1.     Kecenderungan pengembangan demokrasi makin hari makin menguat.  Demikian juga kecenderungan untuk menyelesaikan masalah secara nir-kekerasan, melainkan dengan jalan musyawarah, syukur dialog makin menguat pula. Masyarat makin lama makin muak dengan sikap arogan dan tindakan kekerasan.

5.2.    Alat atau media untuk menyebarkan gagasan, ajakan dan semangat membangun kehidupan yang rukun-ramah semakin banyak, baik media pribadi seperti internet, maupun media massa, seperti harian, mingguan, majalah, buku, dll.

5.3.    Pemerintah makin hari mesti makin diyakinkan bahwa Negara wajib melindungi warga Negara agar dapat hidup merdeka di bumi sendiri, dan Negara tidak melakukan dominasi melainkan memberi fasilitas terjadinya kehidupan yang rukun-ramah.  

 

6.      Harapan

Sangat diharapkan SOBAT akan semakin bertumbuh-kembang demikian juga simpul-simpulnya, sehingga makin bertumbuh di berbagai tempat. Pernah dalam pertemuan SOBAT dipertanyakan apakah SOBAT hanya akan menjadi tempat ngobrol (ber-wacana) ataukah ada gerak (tindakan) nyata yang perlu dilakukan oleh SOBAT. Ada pula saudara yang menyatakan bahwa ia tidak tertarik ikut dalam pertemuan-pertemuan ini sebab ketika mengalami kesulitan juga tidak mendapatkan dukungan. Ke depan, kiranya SOBAT juga akan memberikan tanggapan terhadap peristiwa apalagi tragedi kemanusiaan, dalam maupun luar negeri, melanjutkan tindakan konkret yang pernah dilakukan ketika terjadi musibah gempa bumi di Yogyakarta. Tanggapan demikian tentu juga merupakan penguat dan pengobar semangat kebersamaan, yang sejatinya adalah upaya dan perjuangan mewujudkan kehidupan yang rukun-ramah.

*) Penulis adalah penggiat SOBAT simpul Purwodadi

 
< Prev   Next >
.

Publication

Polls

Where do you find out about Percik ?
 
© 2017 kampoeng percik
Joomla! est un logiciel libre distribué sous licence GNU/GPL.